Chen Zhi: Buronan Asia yang Diduga Raup Rp 232,5 Triliun dari Skema Penipuan di Kamboja

Keuangan369 Views

Nama Chen Zhi kini menjadi perbincangan besar di Asia setelah dirinya diduga terlibat dalam jaringan kejahatan finansial terbesar dalam sejarah Asia Tenggara. Ia disebut sebagai otak di balik perusahaan Prince Group yang digunakan sebagai kedok untuk menjalankan skema penipuan online lintas negara dengan total kerugian mencapai Rp 232,5 triliun. Kasus ini tidak hanya mengguncang dunia bisnis, tetapi juga membuka mata dunia tentang maraknya kejahatan siber terorganisir yang memanfaatkan celah ekonomi digital di Asia.

“Kasus Chen Zhi adalah contoh nyata bagaimana ambisi dan kekuasaan dapat menutupi kebusukan moral. Ketika uang menjadi dewa, nilai kemanusiaan sering kali dikorbankan di altar keuntungan.”

Siapa Chen Zhi dan Apa Itu Prince Group?

Sebelum membahas lebih dalam tentang skandal yang menjeratnya, kita perlu mengenal sosok Chen Zhi dan latar belakang perusahaannya yang kini menjadi sorotan dunia internasional.

Profil Chen Zhi

Chen Zhi adalah pengusaha keturunan Tiongkok yang kemudian menjadi warga negara Kamboja. Ia dikenal sebagai pemilik sekaligus pimpinan Prince Holding Group (Prince Group), konglomerasi besar yang memiliki bisnis di berbagai sektor, mulai dari real estate, perbankan, hingga investasi digital. Berkat jaringan bisnisnya yang luas, Chen Zhi sempat disebut sebagai salah satu orang terkaya di Kamboja dengan kekayaan mencapai miliaran dolar AS.

Namun, di balik citra gemerlapnya, muncul dugaan kuat bahwa Chen Zhi menggunakan perusahaan-perusahaan di bawah Prince Group untuk mencuci uang hasil kejahatan siber. Dugaan ini muncul setelah investigasi dari beberapa lembaga internasional mengungkap keterlibatan Prince Group dalam aktivitas keuangan mencurigakan.

Tentang Prince Group

Prince Group berdiri pada awal tahun 2010-an di Phnom Penh. Secara resmi, perusahaan ini bergerak dalam bidang investasi properti, perhotelan, keuangan, dan pengembangan teknologi. Namun laporan investigatif menunjukkan bahwa di balik operasi sahnya, terdapat aktivitas ilegal seperti investasi fiktif dan transaksi kripto yang melibatkan ribuan akun palsu.

Perusahaan ini juga memiliki banyak anak usaha yang tersebar di berbagai negara Asia Tenggara seperti Laos, Vietnam, dan Myanmar. Diduga, jaringan perusahaan inilah yang menjadi jalur utama untuk mengalirkan uang hasil penipuan digital.

“Mereka membangun istana dari kaca: tampak megah dari luar, tapi rapuh dan penuh retakan di dalamnya.”

Dugaan Skema Penipuan Global yang Dijalankan Chen Zhi

Kasus ini menarik perhatian publik karena skalanya yang luar biasa besar dan sistemnya yang kompleks. Otoritas Amerika Serikat dan Inggris telah menuduh Chen Zhi menjalankan salah satu jaringan penipuan digital paling masif di dunia.

Modus Operandi: Skema Pig Butchering

Skema yang digunakan dikenal dengan istilah pig butchering, yang secara harfiah berarti “penyembelihan babi”. Istilah ini merujuk pada cara para pelaku menipu korban secara perlahan dengan membangun kepercayaan sebelum akhirnya mengambil seluruh uang korban.

Para korban biasanya diajak berinvestasi melalui aplikasi palsu yang diklaim bisa memberikan keuntungan besar. Setelah korban menyetor uangnya, sistem diatur sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah investasinya berkembang pesat. Namun ketika korban ingin menarik uangnya, akun mereka tiba-tiba dibekukan, dan para penipu pun menghilang.

Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa Prince Group menyediakan infrastruktur digital dan jaringan keuangan untuk menjalankan operasi ini. Kantor-kantor di Kamboja, Laos, dan Vietnam digunakan sebagai pusat kendali. Sebagian besar kegiatan dilakukan oleh pekerja yang direkrut secara paksa atau dengan janji pekerjaan palsu.

Nilai Kerugian yang Fantastis

Menurut laporan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), jaringan yang dikendalikan Chen Zhi telah menghasilkan keuntungan ilegal sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp 232,5 triliun. Pemerintah Amerika bahkan menyita lebih dari 127.000 Bitcoin yang diduga merupakan hasil transaksi kejahatan digital ini.

Selain itu, banyak laporan menyebut bahwa Chen Zhi memiliki jaringan pencucian uang yang sangat canggih, memanfaatkan perusahaan-perusahaan fiktif dan rekening anonim untuk memindahkan dana lintas negara. Hasil penipuan ini kemudian diinvestasikan kembali ke bisnis properti dan perbankan di bawah Prince Group untuk memberikan kesan legal.

Keterlibatan Tenaga Kerja Paksa

Investigasi juga menemukan fakta mengejutkan. Ribuan pekerja dari berbagai negara seperti Myanmar, Filipina, dan Indonesia direkrut secara ilegal untuk bekerja di kompleks milik Prince Group. Mereka dipaksa menjalankan aktivitas penipuan online dengan target korban di Eropa dan Amerika. Banyak di antara mereka yang dilaporkan tidak bisa keluar dari lokasi kerja karena dijaga ketat.

“Ironisnya, kejahatan ini bukan hanya mencuri uang, tapi juga mencuri kebebasan ribuan orang yang dijadikan alat oleh sistem yang diciptakan Chen Zhi.”

Reaksi Internasional dan Tindakan Hukum

Kasus Chen Zhi telah memicu reaksi keras dari banyak negara. Pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa kini bekerja sama untuk menindak jaringan kejahatan siber yang berbasis di Kamboja.

Dakwaan dari Amerika Serikat dan Inggris

Pada pertengahan Oktober 2025, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) secara resmi mengumumkan dakwaan terhadap Chen Zhi. Ia dituduh melakukan penipuan siber internasional (cyber fraud), pencucian uang (money laundering), dan perdagangan manusia (human trafficking).

Pemerintah Inggris juga ikut menjatuhkan sanksi terhadap Prince Group serta membekukan aset Chen Zhi di London yang nilainya mencapai £130 juta. Selain itu, beberapa aset perusahaan di Dubai, Singapura, dan Hong Kong juga telah dibekukan.

Sementara itu, pihak Interpol telah mengeluarkan red notice untuk menangkap Chen Zhi yang hingga kini masih melarikan diri dan diyakini berpindah-pindah antara China Selatan dan wilayah perbatasan Laos.

Reaksi Pemerintah Kamboja

Pemerintah Kamboja sendiri tampak berhati-hati dalam menanggapi kasus ini. Juru bicara pemerintah mengatakan bahwa mereka akan bekerja sama dengan lembaga internasional, namun menolak memberikan komentar lebih jauh mengenai status Chen Zhi. Hal ini memicu spekulasi bahwa Chen Zhi memiliki hubungan politik kuat dengan beberapa pejabat penting di negara tersebut.

Namun, di sisi lain, tekanan internasional yang terus meningkat membuat pemerintah Kamboja tak bisa mengabaikan isu ini. Beberapa media lokal melaporkan bahwa beberapa anak perusahaan Prince Group telah dihentikan operasinya sementara waktu.

Dampak Skandal Chen Zhi terhadap Dunia Keuangan Digital

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia finansial modern, khususnya terkait investasi digital dan perdagangan mata uang kripto yang semakin sulit diawasi.

Ancaman bagi Keamanan Finansial Global

Jaringan kejahatan Chen Zhi menunjukkan bahwa sistem keuangan global masih memiliki celah besar dalam pengawasan transaksi digital. Mata uang kripto yang seharusnya menjadi simbol kebebasan finansial justru dimanfaatkan sebagai alat pencucian uang berskala besar.

Para pakar menilai, kasus ini akan menjadi titik balik bagi banyak negara untuk memperketat regulasi terkait aset digital dan transaksi lintas batas.

Pengaruh terhadap Citra Kamboja

Bagi Kamboja, kasus ini menjadi pukulan telak. Negara yang selama ini berusaha menarik investor asing kini justru dikenal sebagai pusat kejahatan siber di Asia Tenggara. Laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) bahkan menyebut Kamboja, Myanmar, dan Laos sebagai “Segitiga Emas Baru” dalam industri penipuan digital dan perjudian ilegal.

“Ketika sebuah negara menjadi tempat berlindung bagi para penjahat digital, kepercayaan dunia terhadap sistem ekonominya akan hancur dengan sendirinya.”

Analisis: Mengapa Kasus Ini Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor utama yang membuat kejahatan sebesar ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun tanpa terdeteksi oleh otoritas.

1. Lemahnya Regulasi Digital di Asia Tenggara

Banyak negara di kawasan ini belum memiliki undang-undang yang memadai untuk mengawasi transaksi digital. Penggunaan kripto yang anonim dan lintas batas membuat pelacakan keuangan sangat sulit dilakukan.

2. Kolusi antara Pengusaha dan Pejabat

Kasus Chen Zhi menunjukkan bahwa kolusi antara pelaku bisnis dan pejabat negara masih menjadi persoalan besar. Hubungan yang saling menguntungkan ini sering membuat kejahatan terorganisir sulit disentuh hukum.

3. Minimnya Edukasi Keuangan di Kalangan Masyarakat

Maraknya kasus investasi bodong menunjukkan bahwa banyak masyarakat masih mudah tergiur dengan janji keuntungan besar tanpa memahami risiko yang menyertainya.

“Kejahatan modern tidak selalu menodongkan pistol. Kadang, ia datang lewat notifikasi di ponsel dan senyum di balik layar.”

Pendapat Pribadi Penulis

“Bagi saya, kasus Chen Zhi adalah cermin dari paradoks zaman modern. Kita hidup di era teknologi yang membuka peluang tanpa batas, tapi juga menciptakan kejahatan yang tak kasat mata. Orang seperti Chen Zhi memanfaatkan kemajuan itu bukan untuk membangun, tapi untuk menipu dan menindas.”

“Jika dunia tidak segera beradaptasi dengan regulasi digital yang kuat dan etika bisnis global, maka akan selalu ada ‘Chen Zhi’ baru di masa depan yang siap menjarah dunia maya dengan senyum ramah dan jas mahal.”

Dunia Butuh Aksi, Bukan Sekadar Reaksi

Kasus Chen Zhi bukan hanya tentang seorang pengusaha yang menipu miliaran dolar, tetapi tentang sistem global yang gagal mengantisipasi kejahatan modern. Penangkapan Chen Zhi nantinya tidak akan menyelesaikan masalah jika akar permasalahannya tidak dibenahi.

Pemerintah di seluruh dunia harus bersatu memperkuat kerja sama dalam pengawasan transaksi digital, menindak tegas kolusi antara pejabat dan pengusaha, serta memberikan edukasi keuangan yang masif kepada masyarakat.

Hanya dengan langkah konkret, tragedi seperti yang dilakukan Chen Zhi dapat dicegah agar tidak terulang di masa depan.

“Uang memang bisa membeli kekuasaan, tapi pada akhirnya kebenaran dan keadilan akan selalu mencari jalannya sendiri, bahkan dari balik tirai kekuasaan dan kejahatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *