Tanaman matoa menjadi salah satu kekayaan hayati asli Papua yang kini mulai dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Buah yang memiliki rasa unik ini memadukan manisnya kelengkeng dengan aroma khas rambutan. Tidak hanya lezat, matoa juga memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi para petani. Dengan budidaya yang tepat, hasil panen matoa bisa maksimal dan memberikan keuntungan yang signifikan.
“Menurut saya, matoa adalah salah satu bukti nyata bahwa kekayaan alam Papua bukan hanya indah, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan baik,” ujar penulis.
Mengenal Tanaman Matoa Papua
Matoa termasuk keluarga Sapindaceae dan memiliki nama ilmiah Pometia pinnata. Pohon ini bisa tumbuh hingga 18 meter dengan diameter batang yang besar. Daun matoa berwarna hijau tua dan tersusun rapi, sementara buahnya berbentuk lonjong dengan kulit tipis dan licin. Di Papua, matoa tumbuh subur di dataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.
Keunggulan matoa terletak pada rasa buahnya yang unik, perpaduan rasa kelengkeng, rambutan, dan sedikit aroma durian. Buah ini juga mengandung vitamin C, vitamin E, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Syarat Tumbuh Tanaman Matoa
Sebelum memulai budidaya, penting memahami kebutuhan dasar tanaman matoa. Pohon ini membutuhkan iklim tropis dengan curah hujan merata sepanjang tahun. Suhu ideal berkisar antara 20 hingga 33 derajat Celsius. Matoa menyukai tanah yang gembur, subur, dan memiliki drainase baik.
Ketinggian lahan yang direkomendasikan adalah 0 hingga 1.200 mdpl. Tanaman ini tidak tahan terhadap genangan air sehingga lahan harus memiliki sistem pembuangan yang baik. Paparan sinar matahari penuh sangat diperlukan untuk pertumbuhan optimal.
Pemilihan Bibit Matoa yang Berkualitas
Keberhasilan budidaya matoa sangat dipengaruhi oleh kualitas bibit. Bibit dapat diperoleh melalui pembibitan biji atau metode cangkok. Bibit dari biji biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk berbuah, sedangkan bibit cangkok atau sambung pucuk dapat berbuah lebih cepat.
Bibit yang baik memiliki batang lurus, daun segar, dan bebas dari hama atau penyakit. Panjang batang minimal 50 cm dengan diameter batang sekitar 1 cm. Pastikan bibit berasal dari indukan yang sehat dan produktif.
Persiapan Lahan Budidaya
Lahan yang akan digunakan harus dibersihkan dari gulma dan tanaman liar. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak sedalam 30 cm agar tanah menjadi gembur. Selanjutnya, buat lubang tanam berukuran 60x60x60 cm dan beri jarak antar lubang sekitar 8 hingga 10 meter.
Campurkan tanah galian dengan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 10 hingga 15 kg per lubang. Diamkan lubang tanam selama 1 hingga 2 minggu sebelum menanam untuk menghilangkan gas beracun di dalam tanah.
Teknik Penanaman Matoa
Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar tanaman mendapatkan cukup air tanpa perlu penyiraman intensif. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi tegak lurus, lalu timbun dengan tanah hingga menutup seluruh akar.
Padatkan tanah di sekitar pangkal batang secara perlahan untuk menghindari kerusakan akar. Beri ajir atau penopang agar bibit tetap berdiri tegak dan terlindung dari hembusan angin kencang.

Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman
Perawatan matoa meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan gulma, dan pemangkasan cabang. Penyiraman dilakukan secara rutin terutama pada musim kemarau, minimal dua kali seminggu.
Pemupukan pertama dilakukan satu bulan setelah tanam menggunakan pupuk NPK dengan dosis 50 gram per pohon. Pemupukan berikutnya dapat dilakukan setiap tiga bulan sekali. Penyiangan gulma penting untuk menghindari persaingan unsur hara.
Pemangkasan dilakukan untuk membentuk tajuk pohon yang seimbang serta membuang cabang yang sakit atau mati. Dengan perawatan yang baik, tanaman matoa bisa mulai berbunga pada usia 4 hingga 5 tahun untuk bibit biji, atau 3 tahun untuk bibit cangkok.
Mengendalikan Hama dan Penyakit
Meskipun tergolong tanaman yang cukup tahan terhadap serangan hama, matoa tetap berisiko terserang ulat daun dan kutu putih. Ulat daun dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba, sedangkan kutu putih bisa diatasi dengan larutan sabun cair.
Penyakit yang sering menyerang adalah jamur akar yang disebabkan oleh drainase buruk. Pencegahannya adalah dengan memastikan tanah tidak tergenang dan melakukan pengapuran tanah jika terlalu asam.
Panen dan Pascapanen Buah Matoa
Matoa siap dipanen ketika kulit buah berubah menjadi kecokelatan atau kemerahan, tergantung varietasnya. Panen dilakukan dengan cara memotong tangkai buah menggunakan gunting pangkas.
Buah matoa yang baru dipanen sebaiknya segera dipasarkan atau diolah karena daya simpannya relatif singkat. Untuk memperpanjang masa simpan, buah dapat disimpan di suhu dingin sekitar 10 derajat Celsius.
Peluang Bisnis dari Budidaya Matoa
Permintaan pasar terhadap buah matoa terus meningkat seiring popularitasnya yang mulai dikenal di luar Papua. Harga jual di pasaran berkisar antara 30 ribu hingga 50 ribu rupiah per kilogram.
Selain dijual dalam bentuk segar, matoa juga dapat diolah menjadi sirup, dodol, atau manisan. Produk olahan ini memiliki nilai jual lebih tinggi dan daya simpan lebih lama. Peluang ekspor pun terbuka, mengingat matoa memiliki daya tarik unik bagi konsumen luar negeri.
Tabel Panduan Budidaya Matoa Papua
| Tahap Budidaya | Keterangan | Waktu Ideal |
|---|---|---|
| Pemilihan Lokasi | Lokasi dengan iklim tropis, curah hujan merata, tanah gembur dan drainase baik, ketinggian 0-1.200 mdpl | Sepanjang tahun dengan musim hujan merata |
| Pemilihan Bibit | Pilih bibit sehat, batang lurus, daun segar, bebas hama, panjang minimal 50 cm, diameter ±1 cm | Sebelum awal musim tanam |
| Persiapan Lahan | Bersihkan gulma, buat lubang 60x60x60 cm, jarak tanam 8-10 m, campur tanah dengan pupuk kandang 10-15 kg | 2 minggu sebelum penanaman |
| Penanaman | Tanam di awal musim hujan, posisi bibit tegak lurus, padatkan tanah perlahan, pasang ajir penopang | Awal musim hujan |
| Perawatan | Siram rutin terutama musim kemarau, pupuk NPK 50 gr/bulan pertama lalu tiap 3 bulan, pangkas cabang mati | Sepanjang tahun |
| Pengendalian Hama | Gunakan insektisida nabati untuk ulat daun, larutan sabun untuk kutu putih, pastikan drainase baik | Sepanjang tahun |
| Panen | Panen saat kulit buah kecokelatan/kemerahan, potong tangkai, simpan di suhu 10°C untuk daya simpan lebih lama | 4-5 tahun (bibit biji) atau 3 tahun (cangkok) setelah tanam |
Tips Rahasia Mempercepat Pembuahan Matoa
Banyak petani menginginkan matoa cepat berbuah agar modal bisa kembali lebih cepat. Ada beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mempercepat masa berbuahnya. Pertama, pilih bibit hasil cangkok atau sambung pucuk dari pohon induk yang sudah produktif. Kedua, berikan pupuk kandang matang yang dicampur pupuk organik cair kaya unsur fosfor dan kalium, karena kedua unsur ini sangat penting untuk merangsang pembungaan.
Lakukan pemangkasan ringan pada ujung ranting ketika pohon mulai besar untuk memicu keluarnya tunas baru yang nantinya menjadi bakal bunga. Pastikan tanaman mendapat cahaya matahari penuh dan bebas dari gulma pengganggu.
“Berdasarkan pengalaman, pemberian pupuk organik cair dari fermentasi buah-buahan busuk dan gula merah mampu mempercepat kemunculan bunga pada matoa hingga 3 bulan lebih awal dibanding perlakuan biasa,” ungkap penulis.






