6 Makanan Wajib Saat Imlek dan Maknanya, Simbol Harapan di Meja Perayaan Perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya soal barongsai, angpao, atau dekorasi serba merah. Di banyak keluarga Tionghoa, meja makan justru menjadi pusat makna yang paling dalam. Setiap hidangan yang tersaji bukan sekadar menu lezat, melainkan simbol doa, harapan, dan cerita turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Makanan dalam perayaan Imlek sarat filosofi. Nama, bentuk, warna, hingga cara penyajiannya mengandung makna khusus. Tidak heran jika beberapa hidangan dianggap wajib hadir saat malam tahun baru atau hari pertama Imlek. Berikut enam makanan yang hampir selalu muncul di meja perayaan, lengkap dengan makna yang menyertainya.
“Di momen Imlek, makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang doa yang disajikan di atas piring.”
Ikan Utuh yang Melambangkan Kelimpahan
Dalam tradisi Imlek, ikan hampir selalu menjadi menu utama. Biasanya disajikan dalam bentuk utuh, lengkap dengan kepala dan ekornya. Penyajian ini bukan tanpa alasan. Ikan melambangkan kelimpahan dan keberuntungan yang berlimpah sepanjang tahun.
Dalam bahasa Mandarin, kata ikan memiliki bunyi yang mirip dengan kata surplus atau kelebihan. Karena itu, menyantap ikan saat Imlek dipercaya sebagai simbol harapan agar rezeki selalu berlebih dan tidak kekurangan.
Banyak keluarga sengaja tidak menghabiskan seluruh ikan di malam tahun baru. Sebagian disisakan untuk disantap keesokan harinya sebagai simbol bahwa rezeki masih tersisa dan terus berlanjut.
Jenis ikan yang digunakan pun beragam. Ada yang memilih ikan bandeng, kakap, hingga gurame. Yang terpenting adalah bentuknya tetap utuh sebagai lambang kesempurnaan dan keberlanjutan.
“Menyajikan ikan utuh terasa seperti menyajikan doa agar hidup tidak terputus di tengah jalan.”
Kue Keranjang yang Sarat Filosofi Kebersamaan
Kue keranjang atau nian gao menjadi ikon Imlek yang paling dikenal. Teksturnya lengket dan rasanya manis. Di balik kesederhanaannya, kue ini menyimpan makna mendalam.
Kata nian berarti tahun, sedangkan gao berarti tinggi. Kue keranjang menjadi simbol harapan agar kehidupan dan pencapaian meningkat dari tahun ke tahun. Semakin tinggi, semakin baik.
Tekstur lengketnya melambangkan eratnya hubungan keluarga. Saat dimakan bersama, kue ini seakan menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah hal yang paling penting dalam keluarga.
Biasanya kue keranjang disusun bertingkat atau dipadukan dengan kue lain sebagai simbol peningkatan rezeki dan karier.
“Kue keranjang selalu mengingatkan bahwa keberhasilan terasa lebih manis jika dirayakan bersama keluarga.”
Pangsit sebagai Lambang Kemakmuran
Pangsit atau dumpling sering hadir dalam perayaan Imlek, terutama di keluarga dengan akar tradisi Tiongkok Utara. Bentuknya yang menyerupai batangan emas kuno membuat pangsit dianggap simbol kekayaan dan kemakmuran.
Isian pangsit biasanya terdiri dari daging cincang dan sayuran. Proses pembuatannya sering dilakukan bersama anggota keluarga. Momen ini menjadi ajang kebersamaan sekaligus simbol kerja sama untuk meraih kesejahteraan.
Ada pula tradisi menyembunyikan koin bersih di dalam salah satu pangsit. Siapa pun yang mendapatkannya dipercaya akan memperoleh keberuntungan khusus di tahun tersebut.
Pangsit bukan hanya lezat, tetapi juga membawa semangat gotong royong dalam keluarga.
“Melipat pangsit bersama terasa seperti melipat harapan agar rezeki ikut terlipat ganda.”
Mi Panjang Umur yang Sarat Doa Kesehatan
Mi panjang umur atau longevity noodles menjadi simbol kesehatan dan usia panjang. Mi ini biasanya dimasak tanpa dipotong. Semakin panjang mi yang disajikan, semakin besar harapan umur panjang bagi yang menyantapnya.
Saat menyantap mi panjang umur, ada anjuran untuk tidak memotongnya sebelum masuk ke mulut. Hal ini diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap makna umur panjang yang terkandung di dalamnya.
Mi biasanya disajikan dengan kuah bening atau digoreng bersama sayuran dan daging. Warna kuning mi juga sering dikaitkan dengan kemakmuran.
Hidangan ini kerap diberikan kepada orang tua sebagai simbol doa agar mereka diberi kesehatan sepanjang tahun.
“Sepiring mi panjang umur terasa sederhana, tetapi doa di dalamnya begitu besar.”
Jeruk Mandarin yang Simbol Keberuntungan
Jeruk mandarin hampir selalu menghiasi meja Imlek. Warna oranye cerahnya melambangkan emas dan kemakmuran. Bentuknya yang bulat mencerminkan kesempurnaan dan kebulatan tekad.
Dalam bahasa Mandarin, pelafalan jeruk terdengar mirip dengan kata keberuntungan. Karena itu, buah ini sering diberikan sebagai buah tangan saat berkunjung ke rumah kerabat.
Jumlah jeruk yang dibawa biasanya genap, karena angka genap dianggap membawa keberuntungan. Jeruk juga kerap disusun rapi sebagai bagian dari dekorasi perayaan.
Selain simbolis, jeruk menjadi penyeimbang di tengah banyaknya hidangan berat dan manis.
“Jeruk di meja Imlek seperti pengingat bahwa harapan selalu hadir dalam warna cerah.”
Ayam Utuh sebagai Simbol Keharmonisan
Ayam utuh menjadi salah satu hidangan penting dalam perayaan Imlek. Seperti ikan, ayam disajikan dalam keadaan utuh untuk melambangkan keutuhan keluarga.
Ayam juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan. Dalam beberapa tradisi, ayam dimasak dengan bumbu sederhana agar rasa aslinya tetap terasa, mencerminkan kesederhanaan dalam kebersamaan.
Bagian ayam yang lengkap dari kepala hingga kaki dipercaya melambangkan awal dan akhir yang baik dalam kehidupan.
Hidangan ayam biasanya diletakkan di tengah meja sebagai simbol pusat kebersamaan keluarga.
“Melihat ayam utuh di tengah meja membuat suasana makan terasa lebih lengkap dan hangat.”
Lebih dari Sekadar Tradisi Kuliner
Enam makanan tersebut bukan hanya bagian dari tradisi, melainkan cara sebuah komunitas menjaga identitas dan nilai keluarga. Di tengah perubahan zaman, makanan menjadi jembatan antara generasi tua dan muda.
Anak anak mungkin tidak selalu memahami makna filosofisnya secara mendalam, tetapi melalui cerita saat makan bersama, nilai nilai tersebut terus diwariskan.
Perayaan Imlek di Indonesia juga menunjukkan akulturasi budaya. Beberapa keluarga memadukan hidangan tradisional dengan makanan lokal. Bandeng presto, lontong cap go meh, hingga aneka kue modern sering hadir berdampingan dengan kue keranjang dan pangsit.
Hal ini memperkaya tradisi tanpa menghilangkan esensinya.
“Tradisi terasa hidup ketika ia bisa beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya.”
Meja makan saat Imlek bukan sekadar tempat menyantap hidangan. Ia menjadi ruang berbagi cerita, doa, dan harapan. Setiap suapan mengandung simbol dan makna yang melampaui rasa.
Dalam suasana yang penuh tawa dan percakapan, makanan menjadi pengikat yang menyatukan keluarga. Dari ikan hingga jeruk mandarin, setiap hidangan menyampaikan pesan sederhana bahwa hidup adalah tentang kelimpahan, kesehatan, kebersamaan, dan harapan yang terus diperbarui setiap tahun.
