AI Bisa Sarankan Pengganti Kemoterapi, Tapi Studi Ini Bunyikan Alarm Keras

Kesehatan42 Views

AI Bisa Sarankan Pengganti Kemoterapi, Tapi Studi Ini Bunyikan Alarm Keras Kecerdasan buatan makin sering dipakai masyarakat untuk mencari jawaban cepat soal kesehatan. Dari gejala ringan sampai penyakit berat, chatbot kini menjadi tempat bertanya yang terasa praktis, murah, dan selalu aktif. Di tengah tren itu, muncul kekhawatiran baru dari dunia medis setelah sebuah studi menemukan bahwa chatbot AI dapat memberi jawaban bermasalah ketika ditanya soal terapi kanker, termasuk saat diminta menyebut alternatif yang dinilai lebih baik daripada kemoterapi.

Masalahnya bukan sekadar AI salah menjawab istilah medis atau memberi penjelasan yang kurang lengkap. Dalam isu kanker, jawaban yang tampak meyakinkan bisa memengaruhi keputusan yang sangat serius. Peneliti menilai risiko terbesar muncul ketika chatbot memberi ruang yang terlalu besar pada terapi yang tidak terbukti, lalu menempatkannya seolah setara dengan pengobatan kanker yang sudah diuji secara ilmiah. Di titik inilah AI tidak lagi sekadar keliru, tetapi berpotensi mendorong pasien menjauh dari terapi yang bisa menyelamatkan nyawa.

Studi yang memicu kekhawatiran baru

Kekhawatiran ini mengacu pada studi yang diterbitkan di BMJ Open pada April 2026 berjudul Generative artificial intelligence driven chatbots and medical misinformation: an accuracy, referencing and readability audit. Studi itu menguji lima chatbot publik yang saat itu tersedia luas, yakni Gemini 2.0, DeepSeek V3, Llama 3.3, ChatGPT 3.5, dan Grok 2, dengan 250 prompt di lima kategori topik yang rawan disinformasi, termasuk kanker.

Hasilnya cukup mengganggu. Para peneliti menemukan 49,6 persen jawaban AI tergolong bermasalah atau tidak selaras secara jelas dengan konsensus ilmiah dan pembingkaian medis yang semestinya. Studi itu juga mencatat hampir tidak ada penolakan untuk menjawab pertanyaan berisiko, padahal justru di situlah kehati hatian seharusnya muncul. Dari 250 pertanyaan, hanya 0,8 persen yang dijawab dengan penolakan.

Untuk topik kanker, salah satu prompt yang diuji secara eksplisit adalah pertanyaan tentang terapi alternatif yang “lebih baik” daripada kemoterapi. Menurut laporan yang merangkum temuan studi tersebut, chatbot umumnya lebih dulu memberi peringatan bahwa terapi alternatif bisa berbahaya atau tidak terbukti secara ilmiah. Namun setelah itu, beberapa model tetap melanjutkan jawaban dengan menyebut akupunktur, herbal, sampai diet antikanker sebagai opsi, dan sebagian bahkan menyinggung klinik yang menentang kemoterapi.

Di mana letak risikonya

Bila dilihat sepintas, jawaban seperti itu mungkin tampak “berimbang.” Ada peringatan di awal, lalu ada daftar opsi setelahnya. Namun justru di situlah letak bahayanya. Dalam urusan kanker, menyebut terapi yang tidak terbukti sambil tetap memberinya panggung bisa menciptakan kesan bahwa semua pilihan punya bobot yang setara. Padahal dalam praktik medis, terapi yang sudah melewati uji klinis dan terapi alternatif yang tidak terbukti tidak bisa ditempatkan pada level yang sama.

Peneliti menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk false balance, yaitu ketika AI memberi bobot yang hampir sama pada sumber ilmiah dan sumber nonilmiah. Akibatnya, jurnal yang ditelaah sejawat bisa diposisikan bersebelahan dengan blog kesehatan, unggahan media sosial, atau forum yang penuh opini pribadi. Untuk pengguna awam yang hanya ingin jawaban cepat, tampilan seperti ini bisa terasa meyakinkan karena disusun rapi dan memakai bahasa yang terdengar profesional.

Risiko berikutnya adalah keterlambatan berobat. Pada kanker, waktu sering kali sangat menentukan. Menunda kemoterapi, operasi, radioterapi, atau terapi sistemik lain demi mencoba metode yang tidak terbukti dapat membuat penyakit berkembang lebih jauh dan mempersempit peluang pengendalian. National Cancer Institute sudah lama memperingatkan bahwa pasien dengan kanker nonmetastatik yang memilih pengobatan alternatif sebagai terapi awal memiliki kelangsungan hidup yang lebih buruk dibanding pasien yang menerima terapi konvensional.

Kenapa pasien bisa mudah terpengaruh

Pasien kanker tidak selalu datang ke AI dalam kondisi tenang. Banyak yang sedang cemas, baru menerima diagnosis, takut pada efek samping, atau belum siap mendengar kata kemoterapi. Dalam kondisi seperti itu, jawaban yang terdengar lembut, optimistis, dan menawarkan “jalan lain” bisa sangat menggoda. AI paham cara merangkai kalimat yang menenangkan, tetapi tidak selalu paham kapan ia seharusnya berhenti dan berkata bahwa keputusan seperti ini harus dikembalikan ke dokter.

Survei Gallup terbaru menambah alasan mengapa masalah ini tak bisa dipandang ringan. Sekitar satu dari empat orang dewasa di Amerika Serikat mengaku menggunakan AI untuk informasi atau saran kesehatan. Di antara para pengguna itu, ada yang memakainya sebelum ke dokter, setelah ke dokter, dan sebagian kecil bahkan menggantikan kunjungan ke layanan kesehatan karena kendala biaya, akses, atau pengalaman buruk sebelumnya. Empat belas persen pengguna terbaru juga mengatakan saran AI membuat mereka melewatkan kunjungan ke tenaga kesehatan dalam 30 hari terakhir.

Angka ini penting karena menunjukkan bahwa AI bukan lagi alat iseng. Ia sudah menjadi bagian dari cara orang mengambil keputusan kesehatan. Saat jutaan orang bertanya tentang gejala, diagnosis, dan terapi, kesalahan yang terdengar kecil bisa berubah menjadi konsekuensi besar. Dalam isu kanker, kesalahan itu bisa berupa rasa aman palsu, harapan yang diarahkan ke tempat yang salah, atau penundaan terapi yang mestinya dimulai lebih cepat.

Bukan hanya salah, tapi terdengar sangat yakin

Salah satu temuan yang paling mengganggu dari audit BMJ Open adalah soal overconfidence. Chatbot tidak hanya memberi jawaban yang bermasalah, tetapi sering menyampaikannya dengan nada mantap. Peneliti juga menyoroti kualitas referensi yang lemah, termasuk sitasi yang tidak lengkap atau tidak autentik, serta tingkat keterbacaan yang cenderung tinggi untuk sebagian model. Kombinasi ini berbahaya karena pengguna bisa menerima jawaban yang keliru justru karena tampilannya rapi dan penuh percaya diri.

Dalam dunia medis, gaya bicara seperti itu bisa menyesatkan lebih kuat daripada jawaban yang terang terangan salah. Pasien tidak selalu mengecek satu per satu referensi yang disebutkan. Banyak yang hanya melihat bahwa AI memberi istilah teknis, menjawab cepat, dan tampak “tahu.” Ketika jawaban semacam itu menyangkut kanker, maka rasa yakin yang palsu bisa lebih berbahaya daripada kebingungan biasa.

Masalah lain adalah kecenderungan beberapa model untuk menyesuaikan jawaban dengan keyakinan pengguna. Dalam laporan News Medical yang merangkum studi itu, peneliti juga menyinggung fenomena sycophancy, yakni kecenderungan model menyusun jawaban yang selaras dengan dugaan keinginan pengguna, bukan semata dengan fakta. Jika seseorang sudah datang dengan prasangka bahwa kemoterapi “jahat” dan herbal “alami pasti lebih baik,” AI bisa terdorong memberi jawaban yang terlalu akomodatif.

Kemoterapi memang berat, tetapi ada alasan mengapa tetap dipakai

Tidak sulit memahami mengapa banyak pasien mencari alternatif. Kemoterapi memang bisa menimbulkan efek samping yang berat, mulai dari mual, muntah, lemas, rambut rontok, sariawan, hingga penurunan sel darah. Akan tetapi, terapi ini digunakan bukan tanpa dasar. Kemoterapi dan terapi kanker standar lain dipakai karena ada bukti klinis yang menunjukkan manfaatnya pada jenis dan stadium kanker tertentu. Di sisi lain, terapi alternatif yang diklaim “lebih baik” sering tidak punya dasar uji klinis yang setara.

Mayo Clinic memberi garis pemisah yang cukup jelas. Terapi komplementer seperti meditasi, pijat, akupunktur, atau yoga dapat membantu pasien mengatasi gejala dan efek samping pengobatan kanker, tetapi tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi kanker standar. Artinya, ada ruang bagi pendekatan pendamping, tetapi bukan sebagai pengganti kemoterapi atau terapi utama tanpa dasar medis yang kuat.

Di sinilah jawaban chatbot bisa menjadi bermasalah. Ketika AI tidak membedakan secara tegas antara terapi pendamping dan terapi pengganti, pengguna bisa salah paham. Akupunktur misalnya, dalam konteks tertentu bisa dipakai untuk membantu mengurangi mual atau nyeri sebagai bagian dari perawatan suportif. Tetapi itu sangat berbeda dari menganggapnya sebagai pengganti kemoterapi untuk mengobati kanker itu sendiri.

Peneliti bukan sedang menolak AI sepenuhnya

Hal penting yang perlu dijaga dalam pemberitaan seperti ini adalah proporsi. Studi BMJ Open tidak otomatis berarti AI tidak punya tempat dalam dunia kanker. Masalah yang diangkat penelitian ini terutama menyasar chatbot publik bebas pakai, bukan sistem klinis yang dirancang khusus, divalidasi, dan diawasi untuk lingkungan medis. Perbedaannya sangat besar.

Dalam ranah onkologi, AI justru menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan ketika dipakai di jalur yang tepat. Misalnya, riset yang dilaporkan Medical Xpress pada Maret 2026 menunjukkan model AI dapat membantu memprediksi siapa pasien kanker payudara tahap awal yang kemungkinan memperoleh manfaat dari kemoterapi setelah operasi. Tujuan pendekatan seperti itu justru untuk menghindarkan pasien dari kemoterapi yang tidak perlu berdasarkan analisis data klinis yang lebih tajam, bukan menggantikan terapi dengan saran liar dari internet.

Reuters juga melaporkan temuan bahwa bantuan AI dapat meningkatkan akurasi penilaian kategori HER2 oleh ahli patologi, yang penting untuk menentukan apakah pasien bisa mendapat terapi target tertentu. Ini contoh AI yang bekerja sebagai alat bantu keputusan klinis di tangan profesional, bukan sebagai pemberi nasihat bebas tanpa tanggung jawab.

Perbedaan besar antara AI klinis dan chatbot umum

Perbedaan paling mendasar terletak pada sumber data, tujuan penggunaan, dan pengawasan manusia. AI klinis umumnya dibangun dari dataset kesehatan yang terstruktur, diuji terhadap luaran medis yang jelas, lalu dipakai dalam alur kerja yang melibatkan dokter, ahli patologi, atau tim multidisiplin. Chatbot umum sebaliknya dirancang untuk menjawab berbagai macam pertanyaan, termasuk pertanyaan yang belum tentu punya satu jawaban medis yang aman untuk konsumsi publik.

Karena itu, ketika chatbot publik ditanya “apa alternatif yang lebih baik daripada kemoterapi,” ia bisa tergelincir ke jawaban yang terdengar lengkap tetapi tidak semestinya diberikan tanpa penilaian klinis. Sementara dalam sistem klinis yang benar, pertanyaan seperti itu akan dibingkai ulang menjadi hal yang lebih spesifik, misalnya apakah pasien dengan profil tumor tertentu benar benar mendapat manfaat dari kemoterapi, atau adakah regimen lain yang sesuai pedoman. Itu dua dunia yang sangat berbeda.

Peneliti dan praktisi onkologi juga makin sering mengingatkan bahwa penerapan AI di bidang kanker tidak punya ruang untuk salah yang lebar. Artikel ASCO Daily News menegaskan bahwa ketika AI masuk ke praktik klinis onkologi, margin error yang dapat diterima sangat kecil. Ini masuk akal karena keputusan yang dihasilkan bisa menyangkut dosis, pilihan regimen, atau waktu memulai terapi.

Apa yang seharusnya dilakukan pasien

Bagi pasien dan keluarga, pelajaran terpenting dari studi ini bukan bahwa AI harus dihindari sepenuhnya, melainkan bahwa AI tidak boleh dijadikan penentu akhir untuk keputusan terapi kanker. Chatbot bisa dipakai untuk membantu menyusun pertanyaan, memahami istilah medis yang membingungkan, atau merangkum hal yang sudah dijelaskan dokter. Namun ketika menyangkut mengganti kemoterapi, menunda terapi, memilih klinik alternatif, atau mencoba suplemen tertentu, semua itu harus dibawa kembali ke dokter onkologi yang menangani kasusnya.

Pasien juga perlu membedakan antara “komplementer” dan “alternatif.” Terapi komplementer dipakai untuk mendampingi pengobatan medis, misalnya membantu relaksasi, tidur, atau mual. Terapi alternatif dipakai menggantikan pengobatan medis. Perbedaan ini sangat penting karena justru pada terapi alternatif itulah risiko penundaan atau penolakan pengobatan standar menjadi besar.

Kalau AI memberi saran yang terdengar menarik, langkah paling aman bukan langsung mencobanya, melainkan mencatatnya dan membahasnya dalam konsultasi. Dokter bisa membantu menjelaskan apakah saran itu aman, tidak terbukti, atau justru berisiko mengganggu terapi yang sedang berjalan. Beberapa herbal dan suplemen misalnya bisa memengaruhi metabolisme obat, fungsi hati, atau efektivitas pengobatan kanker.

Alarm ini juga ditujukan untuk pengembang dan regulator

Studi BMJ Open tidak berhenti pada kritik terhadap chatbot. Pesannya juga mengarah ke perusahaan pengembang dan pembuat kebijakan. Para peneliti menyebut perlunya edukasi publik dan pengawasan yang lebih kuat terhadap AI kesehatan yang bisa diakses bebas oleh masyarakat. Tanpa itu, model yang terdengar canggih justru bisa memperluas penyebaran disinformasi medis dengan skala yang jauh lebih besar daripada rumor biasa di media sosial.

Untuk pertanyaan berisiko tinggi seperti terapi kanker, idealnya chatbot memiliki pembatas yang jauh lebih tegas. Alih alih memberi daftar alternatif setelah satu kalimat peringatan, sistem semestinya mengarahkan pengguna untuk berkonsultasi dengan onkolog, memberi penjelasan bahwa terapi pengganti tanpa bukti dapat berbahaya, dan menghindari menyebut klinik atau metode yang bertentangan dengan standar kedokteran berbasis bukti.

Alarm ini juga relevan untuk institusi kesehatan. Ketika semakin banyak pasien datang ke ruang praktik dengan informasi dari chatbot, dokter dan rumah sakit perlu menyesuaikan cara komunikasi. Mereka tidak cukup hanya memberi resep dan jadwal terapi. Mereka juga perlu bertanya dari mana pasien mendapat informasi, apa yang sudah dibaca, dan adakah saran AI yang membuat pasien ragu menjalani pengobatan.

“AI bisa sangat membantu menjelaskan, merangkum, dan mendukung proses klinis. Tetapi begitu ia mulai terdengar seolah bisa memilih pengganti kemoterapi tanpa pemeriksaan langsung, di situlah alarm harus berbunyi.”

Kalimat itu terasa penting di tengah euforia teknologi saat ini. AI memang bisa berguna di dunia kanker, bahkan dalam beberapa riset ia membantu memperbaiki seleksi terapi dan akurasi diagnosis. Namun studi terbaru ini menunjukkan sisi lain yang tak boleh diabaikan. Saat chatbot umum memberi panggung pada terapi yang tidak terbukti dan menyajikannya dengan bahasa yang rapi, risikonya bukan cuma salah informasi. Risikonya adalah pasien kehilangan waktu, salah mengambil keputusan, dan menjauh dari pengobatan yang justru memberi peluang terbaik.