Ikut Demo 25 Agustus, Ojol: Pingin Ketemu DPR yang Kemarin Joget Joget

Keuangan306 Views

Demo besar pada 25 Agustus 2025 di depan Gedung DPR RI tidak hanya diikuti mahasiswa dan aktivis, tetapi juga para pengemudi ojek online (ojol). Kehadiran ojol dalam aksi ini menambah warna tersendiri karena mereka tidak sekadar menuntut transparansi soal tunjangan DPR, melainkan juga membawa sindiran keras terhadap perilaku anggota DPR yang sebelumnya viral berjoget di ruang sidang. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana simbol-simbol politik yang dianggap tidak pantas mampu memicu kekecewaan masyarakat dari berbagai lapisan.

“Menurut saya, kehadiran ojol dalam demo kali ini adalah representasi nyata keresahan rakyat kecil. Mereka tidak hanya bicara soal angka tunjangan, tetapi juga mempermasalahkan sikap wakil rakyat yang dianggap melecehkan kondisi bangsa.”

Latar Belakang Kehadiran Ojol di Aksi Demo

Para ojol yang bergabung dalam aksi demo membawa narasi berbeda dari kelompok lain. Mereka menyoroti sikap anggota DPR yang viral di media sosial karena terekam berjoget saat sidang, yang dinilai tidak menghormati jabatan dan rakyat.

Isu Joget di Ruang Sidang

Sebelum aksi demo berlangsung, publik sempat dihebohkan dengan video anggota DPR yang berjoget saat rapat. Video tersebut beredar luas di media sosial, memicu reaksi keras dan dianggap tidak pantas dilakukan oleh pejabat negara.

Ojol Sebagai Simbol Perlawanan Rakyat Kecil

Ojol yang sehari-hari bergelut di jalan dengan pendapatan pas-pasan melihat aksi joget itu sebagai bentuk pelecehan. Bagi mereka, ketika rakyat berjuang keras mencari nafkah, wakil rakyat justru asyik bergembira di kursi parlemen.

Publik Geram dengan Tunjangan Rumah DPR Rp 50 Juta

Salah satu pemicu utama aksi demo adalah kabar bahwa anggota DPR akan menerima tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan. Publik menilai hal ini tidak etis, terutama di tengah kondisi ekonomi sulit yang dihadapi masyarakat. Banyak keluarga masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara wakil rakyat justru mendapatkan fasilitas mewah dari uang negara. Kegeraman ini meluas ke media sosial dan menjadi bahan perbincangan sehari-hari.

“Menurut saya, kebijakan tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta adalah bentuk ketidakpekaan elit politik. Di saat rakyat menjerit karena harga bahan pokok naik, keputusan ini terasa seperti tamparan keras bagi masyarakat.”

Demo 25 Agustus Ricuh di Depan DPR

Meski pada awalnya berlangsung damai, aksi demo di depan Gedung DPR pada 25 Agustus 2025 sempat ricuh. Massa yang memaksa maju ke depan pagar DPR terlibat dorong-dorongan dengan aparat. Situasi semakin panas ketika sejumlah provokasi terjadi. Untuk mengendalikan massa, polisi akhirnya menyemprotkan water cannon ke arah kerumunan. Tindakan ini memicu kepanikan sekaligus kemarahan peserta aksi. Namun, setelah negosiasi dengan koordinator lapangan, keadaan perlahan bisa kembali dikendalikan.

“Menurut saya, ricuhnya aksi ini adalah cerminan dari ketegangan yang tidak tersalurkan dengan baik. Rakyat ingin didengar, tetapi respons yang keras dari aparat justru memperuncing konflik.”

Situasi Lapangan Saat Ojol Hadir

Kehadiran pengemudi ojol di aksi demo menambah dinamika lapangan. Mereka membawa atribut khas seperti jaket dan helm ojol, yang menjadi simbol bahwa suara rakyat kecil ikut menggema di Senayan.

Atribut dan Orasi

Banyak pengemudi ojol datang dengan membawa spanduk bertuliskan sindiran terhadap DPR. Orasi yang mereka sampaikan berfokus pada kritik moral selain tuntutan soal tunjangan.

Respons Massa Aksi

Kehadiran ojol mendapat sambutan positif dari kelompok mahasiswa. Sinergi ini membuat aksi terlihat lebih besar dan meriah, meski tetap dalam konteks serius menyuarakan aspirasi rakyat.

“Bagi saya pribadi, momen ketika ojol berorasi bersama mahasiswa adalah simbol persatuan rakyat melawan kesewenangan elit politik.”

Tuntutan Khusus yang Disuarakan Ojol

Selain tuntutan umum mengenai transparansi gaji dan pembatalan tunjangan DPR, para ojol membawa pesan tambahan.

Pertemuan dengan DPR

Ojol menegaskan bahwa mereka hadir untuk menyuarakan kekecewaan langsung kepada anggota DPR yang berjoget. Mereka ingin berhadapan langsung untuk menuntut penjelasan terkait sikap tersebut.

Tuntutan Moral

Bagi ojol, masalah utama bukan hanya uang rakyat yang digunakan untuk tunjangan besar, tetapi juga etika pejabat negara yang harus mencerminkan rasa hormat kepada rakyat.

Reaksi Publik di Media Sosial

Fenomena ojol ikut demo dengan sindiran terhadap anggota DPR yang berjoget menjadi viral di media sosial. Tagar seperti #OjolMelawan dan #JogetDPR sempat trending.

Dukungan Netizen

Banyak netizen mendukung aksi ojol sebagai bentuk kritik segar dan berani. Kehadiran mereka dianggap mewakili suara rakyat kecil yang jarang mendapat perhatian.

Kritik Balik Terhadap DPR

Tak sedikit warganet yang menilai bahwa aksi ini semakin mempermalukan DPR di mata publik, karena memperlihatkan betapa rendahnya kepercayaan rakyat terhadap wakilnya.

Dampak Kehadiran Ojol dalam Demo

Keterlibatan ojol memberi dampak sosial dan politik yang signifikan.

Dampak Sosial

Kehadiran ojol memperkuat solidaritas lintas kelas sosial dalam aksi. Dari mahasiswa, buruh, hingga pekerja informal bersatu dalam tuntutan moral dan keadilan.

Dampak Politik

Kritik yang dibawa ojol menekan DPR tidak hanya dalam aspek kebijakan, tetapi juga citra publik. DPR semakin dipandang tidak hanya boros, tetapi juga tidak memiliki wibawa.

Refleksi Penulis

Keterlibatan ojol dalam demo 25 Agustus 2025 menunjukkan bahwa gerakan rakyat kini semakin inklusif. Suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan kini muncul dengan lantang, menyuarakan keresahan moral dan ekonomi sekaligus.

“Menurut saya, aksi ini adalah bukti bahwa kesabaran rakyat sudah habis. Jika ojol yang biasanya sibuk mencari nafkah sampai turun ke jalan, itu artinya krisis kepercayaan kepada DPR sudah sangat serius.”

Makna Kehadiran Ojol dalam Aksi 25 Agustus 2025

Aksi demo kali ini memperlihatkan bahwa bukan hanya mahasiswa atau aktivis yang peduli pada isu DPR, tetapi juga rakyat kecil seperti pengemudi ojol. Kehadiran mereka menandai babak baru dalam gerakan rakyat: suara yang lebih beragam, lebih merakyat, dan lebih sulit diabaikan.

Pesan moral yang disuarakan ojol tentang etika wakil rakyat menegaskan bahwa tuntutan rakyat tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga soal martabat. Demo 25 Agustus 2025 menjadi catatan sejarah bahwa rakyat kecil pun bisa memberi teguran keras kepada elit politik yang lalai menjaga kehormatan jabatannya.