Merkuri di Skincare Mengintai, Risiko Otak dan Ginjal Jadi Alarm Besar

Gaya Hidup6 Views

Merkuri di Skincare Mengintai, Risiko Otak dan Ginjal Jadi Alarm Besar Produk perawatan kulit atau skincare semakin mudah ditemukan di toko, lokapasar, media sosial, hingga penjualan langsung dari mulut ke mulut. Di balik pilihan yang makin banyak, masyarakat perlu lebih waspada karena tidak semua produk yang menjanjikan wajah cerah dalam waktu singkat aman digunakan. Salah satu bahan paling berbahaya yang masih ditemukan dalam kosmetik ilegal adalah merkuri. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut merkuri dapat menimbulkan gangguan serius pada sistem saraf, pencernaan, kekebalan tubuh, paru, ginjal, kulit, dan mata, bahkan paparan dalam jumlah kecil dapat menimbulkan masalah kesehatan serius.

Merkuri Masih Ditemukan dalam Kosmetik Berbahaya

Isu merkuri dalam skincare bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Badan Pengawas Obat dan Makanan berulang kali menemukan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang. Produk semacam ini biasanya menawarkan hasil cepat, kulit putih merata, flek hilang dalam hitungan hari, atau wajah terlihat kinclong dalam waktu singkat.

BPOM pada periode Juli hingga September 2025 mengungkap 23 kosmetik mengandung bahan berbahaya atau dilarang. Dalam penjelasannya, BPOM menyebut merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit berupa bintik hitam, reaksi alergi, iritasi kulit, sakit kepala, diare, muntah, bahkan kerusakan ginjal.

Produk Ilegal Sering Mengandalkan Janji Cepat

Produk yang mengandung merkuri sering menyasar konsumen yang ingin hasil cepat. Krim wajah, sabun pencerah, losion, atau produk pemutih yang dijual tanpa keterangan jelas kerap menggunakan bahasa pemasaran berlebihan. Konsumen dibuat percaya bahwa kulit cerah bisa diperoleh dalam beberapa hari tanpa risiko.

Padahal, kulit manusia memiliki proses alami. Perubahan warna kulit, pengurangan noda, atau perbaikan tekstur memerlukan waktu dan tidak seharusnya terjadi secara terlalu ekstrem. Bila suatu produk membuat kulit terlihat sangat putih dalam waktu singkat, terasa panas, membuat kulit mengelupas berlebihan, atau memberi efek kinclong tidak wajar, produk tersebut patut dicurigai.

Kementerian Kesehatan dalam Mediakom juga menyoroti produk perawatan kulit ilegal yang memakai klaim bombastis, terutama produk yang menjanjikan kulit cepat cerah. Dalam tulisan itu, dokter kulit Listya Paramita mengingatkan bahwa produk tanpa notifikasi BPOM, kemasan polos, atau tanpa keterangan bahan aktif sebaiknya langsung dihentikan karena berbahaya.

Mengapa Merkuri Berbahaya untuk Tubuh

Merkuri adalah logam berat yang dapat masuk ke tubuh melalui kulit, saluran pernapasan, atau saluran cerna. Pada skincare, risiko utama muncul ketika produk dioleskan berulang pada kulit. Penggunaan harian membuat paparan berlangsung terus menerus, sehingga tubuh dapat menimbun zat beracun tersebut.

WHO menempatkan merkuri sebagai salah satu dari sepuluh bahan kimia yang menjadi perhatian besar bagi kesehatan masyarakat. Merkuri memiliki efek toksik pada sistem saraf, sistem pencernaan, sistem kekebalan, paru, ginjal, kulit, dan mata.

Bahaya Tidak Selalu Terlihat Sejak Awal

Salah satu masalah besar dari kosmetik bermerkuri adalah keluhan tidak selalu muncul langsung. Pada sebagian orang, tanda awal bisa berupa iritasi, kulit kemerahan, gatal, atau jerawat bertambah. Pada orang lain, kulit justru tampak lebih cerah di awal sehingga pengguna merasa produk bekerja baik.

Kesan awal inilah yang berbahaya. Konsumen bisa memakai produk lebih lama karena merasa hasilnya sesuai harapan. Padahal, paparan merkuri yang berlangsung lama dapat memberi gangguan lebih berat, termasuk pada ginjal dan sistem saraf.

Keracunan merkuri tidak selalu mudah dikenali oleh orang awam. Gejalanya dapat menyerupai keluhan lain, seperti sakit kepala, lemah, perubahan suasana hati, kesemutan, sulit tidur, atau daya ingat menurun. Karena itu, riwayat penggunaan skincare ilegal perlu disampaikan kepada dokter bila seseorang mengalami keluhan setelah memakai produk mencurigakan.

Risiko pada Otak dan Sistem Saraf Perlu Diwaspadai

Bahaya merkuri yang paling mengkhawatirkan adalah gangguan pada sistem saraf. Sistem saraf berperan mengatur gerak, ingatan, penglihatan, pendengaran, rasa, hingga kerja berbagai organ. Bila sistem ini terganggu, keluhan bisa terasa luas dan mengganggu aktivitas.

FDA Amerika Serikat memperingatkan bahwa produk kulit mengandung merkuri telah dikaitkan dengan kasus keracunan dan peningkatan kadar merkuri dalam tubuh. Gejala keracunan merkuri dapat mencakup mudah marah, rasa malu berlebihan, tremor, perubahan penglihatan atau pendengaran, masalah ingatan, depresi, serta rasa kebas atau kesemutan pada tangan, kaki, atau sekitar mulut.

Gangguan Ingatan hingga Tremor Bisa Muncul

Keluhan saraf akibat merkuri dapat mengubah keseharian seseorang. Tremor membuat tangan bergetar saat memegang benda. Masalah ingatan membuat seseorang mudah lupa. Perubahan penglihatan atau pendengaran membuat aktivitas kerja dan belajar terganggu. Rasa kebas atau kesemutan dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia juga menyebut pemakaian merkuri pada produk pencerah kulit dapat menyebabkan iritasi, alergi, mual, muntah, diare, kerusakan ginjal, serta pada pemakaian jangka panjang dapat berakibat pada kerusakan saraf otak dan gangguan psikis seperti depresi serta kecemasan.

Risiko ini membuat skincare bermerkuri tidak boleh dianggap sebagai persoalan kulit semata. Produk yang dioleskan ke wajah dapat membawa masalah ke organ tubuh lain. Karena itu, kata aman tidak boleh hanya dinilai dari kemasan cantik, testimoni pengguna, atau harga mahal.

Ginjal Juga Menjadi Organ yang Rentan

Selain sistem saraf, ginjal menjadi organ yang sangat rentan terhadap paparan merkuri. Ginjal bekerja menyaring darah dan membuang zat sisa dari tubuh. Bila bahan beracun masuk terus menerus, ginjal dapat ikut terbebani.

BPOM menyebut merkuri pada kosmetik dapat menimbulkan kerusakan ginjal. Sementara WHO dalam dokumen mengenai produk pencerah kulit berbahan merkuri menyebut efek kesehatan dari merkuri anorganik dalam krim dan sabun pencerah meliputi kerusakan ginjal, ruam kulit, perubahan warna kulit, serta jaringan parut.

Keluhan Ginjal Kadang Tidak Disadari

Masalah ginjal sering tidak langsung terasa berat pada awalnya. Sebagian orang baru menyadari saat muncul bengkak, perubahan buang air kecil, tekanan darah meningkat, atau hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan gangguan. Inilah sebabnya paparan bahan berbahaya dalam skincare tidak boleh diremehkan.

Produk yang dipakai di wajah juga bisa menyebar ke orang lain di rumah. Sisa krim dapat menempel pada handuk, sarung bantal, pakaian, tangan, atau permukaan benda. Anak kecil dan anggota keluarga lain dapat ikut terpapar bila kebersihan tidak dijaga.

FDA mengingatkan bahwa orang yang memakai produk bermerkuri harus berhenti menggunakannya, mencuci tangan serta bagian tubuh yang terkena produk, lalu menghubungi tenaga kesehatan untuk mendapat arahan. FDA juga meminta produk tidak dibuang sembarangan dan perlu ditangani sesuai aturan bahan berbahaya di wilayah setempat.

Ibu Hamil dan Anak Lebih Rentan

Paparan merkuri menjadi lebih mengkhawatirkan pada ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan anak. Kelompok ini lebih rentan karena perkembangan otak dan sistem saraf masih berlangsung. Paparan bahan beracun dapat mengganggu proses tumbuh kembang yang sangat penting.

WHO menyebut paparan merkuri pada janin dapat memberi bahaya khusus bagi anak yang belum lahir. Merkuri beracun bagi kesehatan manusia, terutama bagi perkembangan anak sejak dalam kandungan dan pada awal kehidupan.

Produk Pencerah Ilegal Harus Dijauhi Saat Hamil

BPOM melalui kanal intelijen obat dan makanan menyebut bayi yang dilahirkan dari ibu yang terkena racun merkuri dapat mengalami kerusakan otak, retardasi mental, kebutaan, dan penurunan kemampuan bicara. Peringatan ini menjadi sangat penting karena sebagian ibu hamil mungkin tetap memakai produk pencerah tanpa mengetahui kandungannya.

Ibu hamil perlu lebih selektif saat memilih skincare. Tidak semua bahan aman dipakai selama kehamilan. Produk yang tidak jelas izin edarnya, tidak mencantumkan komposisi, atau dijual dengan klaim berlebihan sebaiknya dihindari. Konsultasi dengan dokter kulit atau dokter kandungan menjadi langkah aman bila ingin memakai produk perawatan tertentu.

Anak remaja juga perlu mendapat edukasi. Banyak remaja tergoda produk pemutih murah dari media sosial karena ingin cepat mengatasi jerawat, noda hitam, atau warna kulit tidak merata. Orang tua perlu membantu memeriksa izin edar dan mengajarkan bahwa kulit sehat lebih penting daripada hasil cepat yang tidak jelas keamanannya.

Ciri Produk Skincare yang Perlu Dicurigai

Produk berbahaya tidak selalu mudah dikenali dari tampilan luar. Ada yang dikemas mewah, diberi label seolah profesional, dan dipromosikan oleh akun media sosial dengan banyak pengikut. Karena itu, konsumen harus melihat lebih dari sekadar kemasan.

Produk perlu dicurigai bila tidak memiliki nomor notifikasi BPOM, tidak mencantumkan daftar bahan, tidak ada nama produsen atau importir, tidak ada tanggal kedaluwarsa, atau hanya dikemas dalam pot polos. Klaim seperti putih dalam tiga hari, flek hilang total dalam seminggu, aman untuk semua usia, atau hasil permanen juga patut dicermati.

Warna, Bau, dan Efek Terlalu Cepat Bisa Menjadi Alarm

Sebagian krim bermerkuri disebut memiliki warna mencolok, tekstur lengket, atau aroma logam dan bahan kimia kuat. Namun, ciri fisik tidak selalu cukup. Produk berbahaya bisa saja dibuat agar tampak seperti krim biasa.

Efek pada kulit juga perlu dipantau. Kulit yang terasa panas, perih, merah, mengelupas berlebihan, gatal, atau muncul jerawat parah setelah memakai produk baru perlu menjadi tanda untuk berhenti. Jika kulit mendadak sangat putih dalam waktu singkat, konsumen juga perlu curiga.

Nama merkuri di label dapat muncul dalam istilah lain. FDA menyebut konsumen perlu mencermati kata seperti mercurous chloride, calomel, mercuric, mercurio, atau mercury pada produk. Bila istilah tersebut muncul, produk tidak boleh digunakan.

Cara Aman Mengecek Skincare Sebelum Dibeli

Langkah pertama sebelum membeli skincare adalah memeriksa izin edar. Di Indonesia, kosmetik yang legal harus memiliki notifikasi BPOM. Konsumen dapat mengecek nomor notifikasi melalui kanal resmi BPOM, bukan hanya percaya pada gambar yang ditempel penjual.

Selain izin edar, periksa nama produk, merek, komposisi, nomor batch, tanggal kedaluwarsa, nama produsen, dan petunjuk pemakaian. Produk resmi biasanya memiliki informasi yang jelas dan mudah dibaca. Bila penjual menolak memberi nomor BPOM atau memberi alasan tidak masuk akal, pembeli sebaiknya membatalkan transaksi.

Jangan Mudah Percaya Testimoni

Testimoni di media sosial sering menjadi alat jualan. Foto sebelum dan sesudah dapat dibuat sangat meyakinkan. Namun, testimoni bukan bukti keamanan. Kulit seseorang yang terlihat cerah setelah memakai produk belum tentu sehat, apalagi bila produk mengandung bahan berbahaya.

Harga juga tidak selalu menjadi jaminan. Produk mahal bisa saja ilegal, sementara produk legal tidak selalu harus mahal. Yang paling penting adalah keamanan, izin edar, komposisi, dan kesesuaian dengan kebutuhan kulit.

Konsumen juga perlu menghindari campuran krim racikan tidak jelas dari pihak yang bukan tenaga kesehatan berwenang. Racikan yang aman harus diberikan oleh dokter sesuai kondisi kulit, bukan dijual bebas tanpa pemeriksaan.

Jika Sudah Telanjur Memakai Produk Mencurigakan

Banyak orang baru sadar setelah kulit bermasalah atau setelah produk yang dipakai ternyata masuk daftar temuan berbahaya. Dalam kondisi ini, langkah pertama adalah menghentikan pemakaian. Jangan mencoba menghabiskan sisa produk karena merasa sayang.

Kemenkes dalam Mediakom menyebut bila kulit sudah kemerahan atau iritasi setelah memakai produk mencurigakan, pemakaian harus dihentikan, produk dibuang dengan aman, dan pengguna segera berkonsultasi ke dokter untuk menangani keluhan yang muncul.

Periksa Bila Ada Keluhan Saraf atau Ginjal

Jika setelah memakai produk mencurigakan muncul keluhan seperti sakit kepala berat, tremor, kesemutan, perubahan penglihatan, mudah lupa, perubahan suasana hati, bengkak, atau perubahan buang air kecil, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Dokter dapat menilai apakah keluhan berkaitan dengan paparan bahan berbahaya atau penyebab lain.

Jangan mengobati sendiri dengan menambahkan produk baru. Kulit yang sudah rusak akibat bahan keras bisa makin parah bila ditumpuk dengan skincare lain tanpa arahan. Proses pemulihan kulit memerlukan waktu dan harus disesuaikan dengan kondisi masing masing orang.

Bila produk dibeli dari toko atau akun tertentu, simpan informasi pembelian, foto kemasan, dan sisa produk bila diminta untuk pelaporan. Laporan masyarakat dapat membantu pengawasan agar produk serupa tidak terus beredar.

Kulit Sehat Tidak Harus Putih Instan

Salah satu akar masalah skincare bermerkuri adalah standar kecantikan yang terlalu menekan warna kulit. Banyak orang merasa kulit putih adalah tanda cantik, bersih, atau lebih percaya diri. Tekanan ini membuat produk pencerah ilegal mudah mendapat pasar.

Padahal, warna kulit ditentukan oleh genetik dan jumlah melanin. Kulit sehat bisa berwarna terang, sawo matang, cokelat, atau gelap. Yang perlu dijaga adalah kebersihan, kelembapan, perlindungan dari sinar matahari, dan penanganan masalah kulit dengan cara aman.

Rawat Kulit dengan Langkah Sederhana

Perawatan kulit yang aman tidak harus rumit. Membersihkan wajah dengan lembut, memakai pelembap sesuai jenis kulit, menggunakan tabir surya pada pagi dan siang hari, serta memilih produk legal sudah menjadi dasar penting. Untuk masalah jerawat, flek, melasma, atau bekas luka, konsultasi dengan dokter kulit lebih aman daripada mencoba produk pemutih tidak jelas.

Produk yang benar biasanya tidak menjanjikan hasil ajaib dalam beberapa hari. Perbaikan kulit membutuhkan waktu. Bila suatu produk mengaku dapat memutihkan secara ekstrem, menghilangkan semua noda, membuat wajah kinclong seketika, dan aman dipakai siapa saja, konsumen perlu berhenti sejenak sebelum membeli.

Merkuri dalam skincare bukan ancaman kecil. Bahan ini dapat menyerang kulit, ginjal, sistem saraf, hingga otak. Di tengah ramainya penjualan kosmetik melalui media sosial dan lokapasar, masyarakat perlu lebih cermat membaca label, mengecek izin BPOM, menghindari klaim berlebihan, dan segera menghentikan penggunaan produk mencurigakan sebelum keluhan bertambah berat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *