Qasr Amra, Istana Gurun Yordania dengan Fresko Langka Dinasti Umayyah

Traveling16 Views

Di hamparan tandus sebelah timur Amman, Yordania, berdiri sebuah bangunan batu berukuran kecil dengan atap melengkung yang terlihat sederhana dari kejauhan. Bangunan itu bernama Qasr Amra, salah satu peninggalan Dinasti Umayyah yang terkenal karena menyimpan lukisan dinding figuratif dalam jumlah besar.

Qasr Amra juga ditulis sebagai Qusayr Amra, Quseir Amra, atau Quṣayr Amra. Namanya kerap diterjemahkan sebagai Istana Kecil Amra. Walaupun sering disebut kastel gurun, bangunan yang masih berdiri terutama merupakan ruang penerimaan dan kompleks pemandian. Sisa bangunan lain di sekitarnya menunjukkan bahwa kawasan tersebut dahulu jauh lebih luas.

UNESCO mencatat Qasr Amra sebagai bangunan awal abad kedelapan yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan penguasa Umayyah sekaligus bagian dari kompleks yang mempunyai unsur pertahanan, pengelolaan air, dan kegiatan pertanian. Situs ini masuk dalam Daftar Warisan Dunia pada 1985 melalui kriteria pencapaian seni, kesaksian peradaban, serta contoh arsitektur yang penting.

Istana Kecil di Tengah Gurun Yordania

Qasr Amra berada di kawasan gurun timur Yordania, sekitar 80 kilometer dari Amman. Bangunan ini berdiri di dekat Wadi al Butum, aliran air musiman yang namanya berasal dari pohon butum atau terebinth. Kehadiran air menjadi alasan penting dalam pemilihan lokasi karena sebuah pemandian membutuhkan pasokan dalam jumlah besar.

Pemandangan di sekelilingnya didominasi tanah berbatu, hamparan kering, dan vegetasi gurun. Namun, kawasan di sekitar wadi dapat menyimpan kelembapan lebih lama. Pohon terebinth tumbuh mengikuti jalur air, menciptakan bagian yang lebih hijau dibandingkan dataran sekitarnya.

Letak tersebut dahulu mendukung kegiatan berburu, pertemuan dengan pemimpin suku, pengelolaan wilayah, dan peristirahatan keluarga penguasa. Para bangsawan Umayyah dapat meninggalkan pusat pemerintahan untuk sementara waktu tanpa sepenuhnya menjauh dari jalur perjalanan dan komunitas yang tinggal di wilayah gurun.

Menurut penulis, keistimewaan Qasr Amra mulai terasa ketika pengunjung memahami bahwa kemewahan air, pemandian hangat, dan lukisan berwarna dibangun di tengah kawasan yang kering.

Dibangun pada Masa Kekuasaan Dinasti Umayyah

Dinasti Umayyah memerintah wilayah Islam dari Damaskus sejak 661 hingga 750. Kekuasaan mereka meliputi daerah luas yang mempertemukan tradisi Arab, Bizantium, Persia, Afrika Utara, dan kawasan Mediterania. Pertemuan budaya tersebut terlihat jelas pada arsitektur dan hiasan Qasr Amra.

Tanggal pembangunan Qasr Amra telah lama menjadi bahan perdebatan. Situs pariwisata resmi Yordania pernah menghubungkannya dengan masa Khalifah Yazid bin Abd al Malik. Penelitian konservasi kemudian menemukan tulisan Arab Kufi yang menyebut Walid ibn Yazid sebagai pihak yang memerintahkan pembangunan.

Tulisan tersebut tidak memakai gelar khalifah. Para peneliti menilai bangunan ini dipesan ketika Walid ibn Yazid masih menjadi putra mahkota, sebelum ia naik menjadi Khalifah Al Walid II pada 743. Temuan itu membantu mempersempit perkiraan waktu pembangunan pada paruh awal abad kedelapan.

Walid ibn Yazid dikenal memiliki hubungan erat dengan kehidupan istana, musik, sastra, perburuan, dan kegiatan hiburan. Lukisan di Qasr Amra memperlihatkan dunia elite yang berisi perjamuan, pertunjukan, olahraga, pemandian, hewan buruan, serta berbagai simbol kekuasaan.

Bangunan yang Bertahan Hanya Sebagian

Bangunan beratap lengkung yang terlihat saat ini bukan keseluruhan kompleks asli. Penelitian arkeologi menemukan jejak sebuah bangunan besar di sebelah barat laut, menara pengawas, tempat ibadah terbuka, jalur penyeberangan wadi, dinding pelindung, sumur, waduk, dan instalasi pengangkat air.

Sisa bangunan besar yang disebut qasr kemungkinan dirancang sebagai tempat tinggal. Susunannya berbentuk persegi dengan bagian menonjol yang diduga sebagai menara. Akan tetapi, penelitian menunjukkan bangunan tersebut mungkin belum selesai ketika ditinggalkan, sehingga tidak pernah berfungsi penuh sebagai kediaman.

Bangunan yang paling utuh adalah balai penerimaan dan pemandian. Bagian inilah yang membuat Qasr Amra terkenal. Dinding, langit langit, relung, dan kubahnya dipenuhi lukisan, sedangkan beberapa lantai masih memperlihatkan mosaik berpola geometris.

UNESCO menilai Qasr Amra sebagai salah satu istana Umayyah berhias yang paling terpelihara di wilayah Yordania dan Suriah. Banyak bangunan sejenis telah kehilangan hiasan, rusak berat, atau hanya menyisakan fondasi.

Balai Penerimaan Dibagi Menjadi Tiga Lorong

Pintu utama membawa pengunjung menuju balai penerimaan berbentuk memanjang. Ruangan ini dibagi menjadi tiga lorong sejajar yang masing masing ditutup atap berbentuk lengkung. Hampir seluruh permukaannya dahulu dilapisi gambar berwarna.

Pada bagian bawah dinding terdapat lukisan yang menyerupai lempengan marmer. Teknik ini menciptakan kesan bahwa ruangan menggunakan bahan mahal, walaupun hiasannya dibuat dengan cat di atas lapisan plester. Bagian atas menampilkan manusia, hewan, tumbuhan, kegiatan kerja, perburuan, musik, dan pertemuan istana.

Di ujung selatan terdapat ruangan yang sering disebut ruang takhta. Seorang pangeran digambarkan duduk di bawah naungan dengan dua sosok di sisinya. Ruangan tersebut terhubung dengan dua relung kecil yang dindingnya dihiasi sulur tanaman, buah anggur, dan figur manusia. Lantainya memakai mosaik geometris dengan sejumlah keping kaca.

Susunan ruangan memperlihatkan bahwa Qasr Amra bukan sekadar tempat mandi. Balai penerimaan memungkinkan penguasa menjamu tamu, mengadakan percakapan, menikmati hiburan, atau memperlihatkan kedudukannya melalui dekorasi yang memenuhi seluruh ruang.

Lukisan Enam Raja Menjadi Gambar Paling Terkenal

Salah satu lukisan yang paling sering dibahas berada di lorong barat. Gambar tersebut menampilkan enam penguasa dengan pakaian dan penutup kepala berbeda. Tulisan berbahasa Arab dan Yunani membantu mengenali beberapa tokoh.

Nama yang masih dapat dibaca antara lain Kaisar Bizantium, Kisra dari Persia Sasaniyah, dan Negus dari Abisinia. Sejumlah ahli juga menghubungkan salah satu sosok dengan Roderic, penguasa Visigoth di Hispania. Identitas tokoh lainnya masih diperdebatkan, termasuk dugaan bahwa mereka menggambarkan pemimpin China dan bangsa Turki.

Keenam sosok digambarkan menghadap ke arah tempat pangeran kemungkinan duduk. Susunan tersebut sering ditafsirkan sebagai penegasan kedudukan penguasa Umayyah di antara kerajaan besar yang dikenal pada zamannya. Namun, penelitian lain menawarkan pembacaan berbeda terhadap identitas dan hubungan antarfigur.

Fresko ini penting karena memperlihatkan bagaimana istana Umayyah memakai simbol kerajaan dari berbagai wilayah. Bahasa Arab dan Yunani berdampingan, sementara gaya pakaian serta posisi tokoh menunjukkan pengetahuan pelukis terhadap dunia politik yang luas.

Perburuan, Musik, dan Pekerja Terekam di Langit Langit

Dinding Qasr Amra tidak hanya memperlihatkan penguasa. Sejumlah bagian menggambarkan perburuan keledai liar atau onager. Para pemburu dengan anjing mengejar kawanan hewan menuju jaring, lalu membawa hasil buruan untuk dipotong dan diolah.

Langit langit lorong tengah dibagi menjadi kotak kotak yang memuat figur manusia dalam berbagai kegiatan. Ada pemain musik, atlet, penari, serta orang yang sedang beristirahat. Lorong timur menampilkan rangkaian pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan.

Pelukis menggambarkan pandai besi, tukang kayu, pemotong batu, pembuat adukan, dan pekerja yang membawa gergaji, pahat, serta peralatan lain. Rangkaian tersebut menjadi catatan visual langka mengenai tenaga kerja pada awal periode Islam.

Lukisan para pekerja memberi Qasr Amra nilai khusus. Bangunan kerajaan biasanya menonjolkan penguasa dan upacara resmi, sedangkan di tempat ini profesi yang mendukung pembangunan juga mendapatkan ruang besar pada langit langit.

Pemandian Menggunakan Sistem Pemanas Bertingkat

Dari balai penerimaan, sebuah pintu kecil mengarah menuju kompleks pemandian. Bagian ini terdiri atas tiga ruangan, yaitu apodyterium sebagai tempat berganti pakaian, tepidarium dengan suhu hangat, dan caldarium sebagai ruang panas.

Apodyterium memiliki bangku batu di sepanjang dinding. Langit langitnya dihiasi pola berbentuk belah ketupat yang berisi manusia, burung, gazel, beruang yang bermain musik, serta berbagai tumbuhan. Pada salah satu bagian terlihat gambaran Dionysus yang mengamati Ariadne sedang tertidur.

Tepidarium mempunyai atap silang dan saluran dari tanah liat pada bagian dinding. Lantai tepidarium serta caldarium ditopang tiang kecil dari batu basal dan bata bakar. Ruang kosong di bawah lantai memungkinkan udara panas bergerak dan menghangatkan ruangan.

Api dinyalakan pada bagian khusus yang disebut praefurnium. Panas dialirkan menuju rongga lantai dan pipa dinding melalui sistem hypocaust, teknik pemanasan yang telah digunakan dalam pemandian Romawi dan Bizantium.

Kubah Zodiak Menampilkan Peta Langit Kuno

Caldarium menjadi ruangan yang paling mengesankan karena memiliki kubah dengan gambar rasi bintang dan simbol zodiak. Empat jendela kecil menghadap ke empat arah, membiarkan cahaya memasuki ruangan panas tersebut.

UNESCO menyebut gambar pada kubah Qasr Amra sebagai salah satu peta langit tertua yang masih bertahan pada permukaan berbentuk kubah. Penelitian Departemen Kepurbakalaan Yordania bahkan menyebutnya sebagai contoh tertua yang diketahui pada bidang setengah bola.

Pelukis harus menyesuaikan posisi rasi dengan permukaan melengkung. Pekerjaan itu memerlukan pengetahuan tentang bentuk kubah, pengamatan langit, dan cara memindahkan pola dua dimensi ke bidang yang melingkar.

Kehadiran zodiak di dalam ruang mandi memperlihatkan hubungan antara ilmu perbintangan, dekorasi istana, dan gagasan mengenai susunan alam. Gambar tersebut juga menunjukkan bahwa kebudayaan awal Islam menyerap pengetahuan Yunani dan tradisi ilmiah yang telah berkembang di kawasan Timur Tengah.

Penulis menilai kubah zodiak menjadi bagian yang paling kuat di Qasr Amra karena ilmu pengetahuan dan seni ditempatkan dalam satu ruangan kecil yang dibangun lebih dari seribu tahun lalu.

Air Diangkat Menggunakan Tenaga Hewan

Membangun pemandian di gurun membutuhkan sistem air yang terencana. Di sebelah utara bangunan utama terdapat sumur, penampungan, dan lintasan melingkar. Hewan berjalan mengitari sumur untuk menggerakkan alat pengangkat air yang disebut saqiya.

Air dari sumur dipindahkan ke penampungan, kemudian dialirkan menuju pemandian. Seorang penjaga diduga mengawasi pengoperasian alat karena arkeolog menemukan ruang kecil di dekat instalasi tersebut.

Saqiya kedua ditemukan di sisi timur. Instalasi ini kemungkinan digunakan untuk mengairi kebun atau lahan pertanian di sekitar kompleks. Kehadirannya menunjukkan bahwa kawasan Qasr Amra bukan bangunan tunggal yang terputus dari kegiatan produksi.

Dinding pelindung juga dibangun untuk mengurangi ancaman luapan Wadi al Butum. Aliran yang biasanya kering dapat membawa air dalam jumlah besar ketika hujan turun di wilayah tangkapan yang luas.

Fresko Mengubah Pandangan tentang Seni Islam Awal

Qasr Amra kembali dikenal luas setelah penjelajah asal Ceko, Alois Musil, mendatangi kawasan tersebut pada 1898. Ia menemukan bangunan dan lukisan yang kemudian didokumentasikan melalui gambar serta tulisan.

Penemuan itu menarik perhatian karena interiornya dipenuhi sosok manusia, perempuan mandi, penari, musisi, hewan, tokoh mitologi, dan penguasa asing. Temuan tersebut memperluas pemahaman mengenai seni Islam awal, terutama seni yang dibuat untuk bangunan istana dan kegiatan pribadi penguasa.

Larangan penggambaran makhluk hidup tidak diterapkan dengan pola yang sama pada setiap tempat dan periode. Bangunan keagamaan mempunyai aturan visual berbeda dari istana, pemandian, benda rumah tangga, atau kawasan peristirahatan.

The Metropolitan Museum of Art menyebut lukisan Qasr Amra sebagai karya khas Umayyah yang tidak sepenuhnya dapat disamakan dengan seni Sasaniyah maupun Bizantium. Pengaruh keduanya terlihat, tetapi para seniman membentuk susunan baru sesuai kebutuhan lingkungan istana Umayyah.

Pemugaran Membuka Warna dan Detail yang Tertutup

Selama berabad abad, lukisan Qasr Amra mengalami perubahan akibat debu, asap, air, garam, kelembapan, goresan, serta bahan pemugaran lama. Sebagian warna menggelap dan detail penting tidak lagi mudah dikenali.

Program pemugaran pada dekade 1970 dan 1990 berusaha mempertahankan lukisan, tetapi beberapa bahan yang digunakan kemudian menua dan menimbulkan persoalan baru. Sejak 2010, Departemen Kepurbakalaan Yordania bekerja bersama lembaga konservasi internasional untuk menangani struktur bangunan dan permukaan lukisan.

Pembersihan berhasil menampilkan kembali warna biru, merah, hijau, dan cokelat yang sebelumnya tertutup lapisan kotoran. Tim juga menemukan tulisan yang menyebut Walid ibn Yazid, gambar Nabi Yunus, rincian pakaian enam raja, serta figur yang dahulu sulit dikenali.

Pekerjaan pada bagian luar diarahkan untuk menutup celah yang memungkinkan air memasuki atap dan dinding. Lantai batu dipasang dengan mempertimbangkan susunan asli, sedangkan dokumentasi dilakukan menggunakan pemetaan, fotografi, dan pemindaian.

Status UNESCO Membawa Tanggung Jawab Pelestarian

Qasr Amra menerima status Warisan Dunia karena lukisannya dinilai sebagai pencapaian seni yang luar biasa pada masa Umayyah. Situs ini juga memberikan kesaksian mengenai kehidupan elite, strategi pemerintahan, serta rancangan kawasan gurun pada masa kekhalifahan awal.

Unsur yang dilindungi tidak terbatas pada pemandian. Sumur, penampungan air, instalasi pengangkat air, sisa benteng, saluran, lahan di sekitar wadi, dan lingkungan gurun ikut membentuk nilai kawasan tersebut.

Ancaman pelestarian berasal dari badai pasir, banjir musiman, rembesan air, pengendapan garam, perubahan kelembapan, serangga, burung, coretan, dan peningkatan jumlah pengunjung. Jalan raya yang berada dekat lokasi juga membawa suara dan polusi ke kawasan bersejarah.

Kelembapan dari napas pengunjung dapat terkumpul di ruangan sempit, terutama saat banyak orang masuk secara bersamaan. Kondensasi pada dinding mempercepat pelepasan plester serta perubahan lapisan cat. Karena itu, pengaturan jumlah pengunjung menjadi bagian penting dalam perawatan fresko.

Menyusuri Qasr Amra Memerlukan Ketelitian

Qasr Amra dapat dikunjungi dalam perjalanan menyusuri kastel gurun Yordania bersama Qasr Kharana dan Qasr Azraq. Bangunannya tidak besar sehingga pengunjung dapat berjalan mengelilingi bagian luar dalam waktu singkat, tetapi pemeriksaan interior membutuhkan perhatian lebih lama.

Cahaya di dalam ruangan cenderung redup. Mata memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri sebelum bentuk manusia, hewan, tanaman, dan tulisan mulai terlihat. Pengunjung perlu memperhatikan atap, sudut relung, bidang di atas jendela, serta bagian bawah lengkungan karena lukisan tersebar hampir di seluruh permukaan.

Sentuhan tangan, penggunaan lampu yang berlebihan, dan tindakan menggores dinding dapat mempercepat kerusakan lapisan yang telah bertahan selama lebih dari seribu tahun. Pengunjung juga perlu mengikuti jalur yang disediakan agar sisa mosaik, lantai, dan struktur pemanas tidak menerima tekanan berlebihan.

Di balik bentuk luarnya yang sederhana, Qasr Amra menyimpan balai kerajaan, teknologi pemandian, sistem pengelolaan air, gambar pekerja, perburuan, tokoh mitologi, enam penguasa, serta peta langit pada kubah. Setiap bidang lukisan menjadi bagian dari catatan visual Dinasti Umayyah yang tidak banyak tersisa di bangunan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *