Fort Rotterdam, Benteng Penyu yang Menyimpan Sejarah Panjang Makassar

Traveling18 Views

Benteng Fort Rotterdam berdiri kokoh di tengah Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dinding batu yang tebal, bangunan berwarna terang, jendela kayu merah, serta deretan atap genting menjadikannya mudah dikenali di antara bangunan modern yang terus memenuhi kawasan pesisir kota.

Lokasinya berada di Jalan Ujung Pandang, tidak jauh dari Pantai Losari dan Pelabuhan Makassar. Letak tersebut memperlihatkan betapa pentingnya benteng ini dalam jalur pelayaran, perdagangan, pertahanan, serta pemerintahan di wilayah timur Nusantara.

Di balik nama berbahasa Belanda yang melekat hingga sekarang, Fort Rotterdam sesungguhnya berawal dari benteng milik Kerajaan Gowa. Perjalanan panjang bangunan ini mencatat kejayaan kerajaan, persaingan perdagangan, Perang Makassar, kekuasaan VOC, pengasingan Pangeran Diponegoro, hingga perubahan fungsi menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan.

Benteng Kerajaan Gowa Sebelum Bernama Fort Rotterdam

Sejarah Fort Rotterdam bermula pada 1545 ketika Raja Gowa ke 10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng, memerintahkan pembangunan sebuah benteng di pesisir Makassar. Bangunan tersebut dikenal sebagai Benteng Ujung Pandang atau Benteng Jumpandang.

Pada masa itu, Kerajaan Gowa berkembang sebagai salah satu kekuatan maritim utama di Sulawesi Selatan. Kedekatan wilayah kerajaan dengan jalur laut membuat perlindungan terhadap pelabuhan menjadi kebutuhan penting. Benteng dibangun untuk mengawasi kapal, melindungi pusat pemerintahan, serta memperkuat kedudukan kerajaan dari ancaman lawan.

Bagian dari Sistem Pertahanan Kerajaan

Benteng Ujung Pandang bukan satu satunya pertahanan yang dimiliki Kerajaan Gowa. Kerajaan tersebut membangun sejumlah benteng di sepanjang wilayah pesisir untuk menjaga pusat perdagangan dan permukiman.

Setiap benteng mempunyai kedudukan berbeda berdasarkan lokasi serta kebutuhan militer. Benteng Ujung Pandang berada di titik yang menghadap laut sehingga pasukan dapat memantau pergerakan kapal yang mendekati pelabuhan.

Pada tahap awal, konstruksinya masih menggunakan bahan yang tersedia di sekitar wilayah kerajaan. Bangunan kemudian diperkuat menggunakan batu agar mampu menghadapi perkembangan persenjataan dan serangan yang semakin besar.

Mengapa Disebut Benteng Penyu

Jika dilihat dari udara, susunan Fort Rotterdam menyerupai seekor penyu yang sedang merayap menuju laut. Bentuk tersebut membuat masyarakat juga mengenalnya sebagai Benteng Pannyua atau Benteng Penyu.

Tubuh penyu digambarkan melalui bagian utama benteng, sedangkan kaki dan kepalanya tampak melalui susunan bastion yang menonjol pada beberapa sisi. Bentuk tersebut tidak hanya menciptakan tampilan khas, tetapi juga membantu pertahanan karena pasukan dapat mengawasi berbagai arah dari sudut benteng.

Penyu merupakan hewan yang dapat hidup di darat dan laut. Gambaran itu sering dikaitkan dengan kekuatan Kerajaan Gowa yang berkembang melalui wilayah daratan sekaligus menguasai jalur pelayaran.

“Menurut penulis, bentuk penyu pada Fort Rotterdam menggambarkan kecermatan para pendiri benteng dalam menyatukan kebutuhan pertahanan dengan identitas kerajaan maritim.”

Perang Makassar Mengubah Penguasaan Benteng

Perkembangan Makassar sebagai bandar perdagangan terbuka menarik banyak pedagang dari berbagai wilayah. Kapal dari Nusantara, Asia, dan Eropa datang membawa kain, beras, rempah, keramik, serta beragam kebutuhan lainnya.

Kebijakan perdagangan Kerajaan Gowa tidak sejalan dengan keinginan VOC yang berusaha menguasai perdagangan rempah. Perselisihan tersebut berkembang menjadi peperangan besar antara Kerajaan Gowa dan VOC.

Sultan Hasanuddin Melawan VOC

Sultan Hasanuddin memimpin Kerajaan Gowa dalam menghadapi tekanan VOC. Ia dikenal karena keberaniannya mempertahankan kebebasan perdagangan dan wilayah kerajaan dari campur tangan asing.

VOC berada di bawah kepemimpinan Cornelis Janszoon Speelman dalam rangkaian serangan terhadap Gowa. Peperangan berlangsung sengit karena Kerajaan Gowa memiliki kekuatan laut, pertahanan pesisir, serta pasukan yang berpengalaman.

Namun, VOC memperoleh dukungan dari sejumlah kekuatan lokal yang berseberangan dengan Gowa. Persekutuan tersebut membuat posisi Sultan Hasanuddin semakin sulit. Pertempuran berkepanjangan menguras persediaan, tenaga, serta pertahanan kerajaan.

Perjanjian Bungaya dan Penyerahan Benteng

Perang Makassar berujung pada Perjanjian Bungaya pada 1667. Salah satu ketentuannya mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada VOC. Sebagian besar benteng lain milik Gowa juga dihancurkan atau diambil alih.

Penyerahan tersebut menjadi perubahan besar bagi Makassar. VOC memperoleh pusat pertahanan yang strategis sekaligus tempat untuk mengendalikan kegiatan pemerintahan dan perdagangan di wilayah Sulawesi.

Benteng yang rusak akibat peperangan kemudian dibangun kembali menggunakan corak arsitektur Eropa. Tata ruang, bangunan, gudang, barak, serta sistem pertahanannya disesuaikan dengan kebutuhan VOC.

Nama Rotterdam Berasal dari Kota Kelahiran Speelman

Setelah menguasai Benteng Ujung Pandang, Cornelis Speelman mengganti namanya menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut diambil dari Rotterdam, kota kelahirannya di Belanda.

Pergantian nama menunjukkan perubahan penguasa sekaligus fungsi bangunan. Benteng tidak lagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Gowa, tetapi berkembang sebagai markas VOC di kawasan timur.

Pusat Pemerintahan Kolonial

Fort Rotterdam menjadi tempat tinggal pejabat, kantor pemerintahan, gudang persediaan, ruang administrasi, dan barak tentara. Aktivitas di dalamnya berkaitan erat dengan pengawasan perdagangan serta pelayaran menuju Maluku.

Lokasi Makassar sangat penting bagi VOC karena berada pada jalur penghubung antara wilayah barat Nusantara dan pusat rempah di bagian timur. Kapal dapat berlabuh untuk mengisi persediaan, menjalani pemeriksaan, atau melanjutkan perjalanan menuju daerah lain.

Keberadaan benteng juga membantu pemerintah kolonial mengawasi masyarakat setempat. Dinding tinggi dan bastion yang menghadap ke berbagai arah menegaskan fungsi militernya.

Bangunan Bergaya Eropa di Wilayah Tropis

Bangunan di dalam Fort Rotterdam memiliki dinding tebal, jendela tinggi, atap curam, serta serambi yang membantu peredaran udara. Unsur tersebut memperlihatkan penyesuaian arsitektur Eropa terhadap cuaca tropis Makassar.

Atap curam memudahkan air hujan mengalir. Jendela besar membantu pencahayaan sekaligus mengurangi panas di dalam ruangan. Serambi memberikan perlindungan dari sinar matahari langsung.

Bangunan disusun mengelilingi halaman terbuka yang luas. Halaman tersebut dahulu dapat digunakan untuk pertemuan, pemeriksaan pasukan, pengangkutan barang, serta kegiatan administrasi.

Lima Bastion Menjaga Setiap Sudut Benteng

Pertahanan Fort Rotterdam diperkuat oleh beberapa bastion yang menonjol pada bagian sudut. Dari tempat tersebut, tentara dapat memantau area di sekitar dinding dan menghadapi serangan dari arah berbeda.

Bastion juga menyediakan posisi yang lebih luas untuk menempatkan persenjataan. Bentuknya memungkinkan pasukan menjaga sisi benteng yang tidak terlihat dari bagian utama tembok.

Susunan Ruang yang Terencana

Gerbang utama membawa pengunjung menuju halaman dalam yang dikelilingi bangunan bertingkat. Tata ruang tersebut menunjukkan bahwa Fort Rotterdam dibangun sebagai kompleks militer sekaligus pemerintahan.

Sebagian bangunan dahulu digunakan sebagai tempat tinggal pejabat. Bangunan lain berfungsi sebagai gudang, barak, ruang tahanan, kantor, dan tempat penyimpanan perlengkapan.

Lorong, tangga, pintu sempit, serta jendela kayu masih memperlihatkan karakter bangunan lama. Perubahan fungsi telah dilakukan pada beberapa bagian, tetapi bentuk utama kompleks tetap dipertahankan.

Dinding Batu yang Menjadi Pelindung Utama

Dinding luar Fort Rotterdam dibuat tebal untuk menahan serangan. Permukaan dinding yang lebar juga memungkinkan tentara bergerak dari satu bastion menuju bastion lainnya.

Sebagian area dinding dapat dijelajahi dari jalur yang telah disediakan. Dari bagian atas, pengunjung dapat melihat halaman benteng, atap bangunan tua, serta kawasan perkotaan Makassar.

Perbedaan antara lingkungan di dalam dan luar benteng terasa cukup jelas. Bagian luar dipenuhi lalu lintas perkotaan, sedangkan halaman dalam cenderung lebih tenang dengan pepohonan dan hamparan rumput.

Pangeran Diponegoro Menjalani Pengasingan di Fort Rotterdam

Nama Fort Rotterdam juga berkaitan erat dengan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa pada 1825 hingga 1830. Setelah ditangkap melalui perundingan di Magelang, ia dibawa ke Batavia dan kemudian diasingkan ke Manado.

Pada 1833, pemerintah kolonial memindahkan Pangeran Diponegoro ke Makassar. Ia ditempatkan di Fort Rotterdam hingga meninggal dunia pada 1855. Dengan demikian, sang pangeran menjalani sekitar 22 tahun terakhir kehidupannya di lingkungan benteng tersebut.

Ruang Tahanan yang Menyimpan Ingatan Perjuangan

Salah satu bagian yang banyak menarik perhatian pengunjung adalah ruang yang dikaitkan dengan penahanan Pangeran Diponegoro. Ruang tersebut tidak luas dan memiliki bukaan terbatas.

Keadaan ruangan membantu pengunjung membayangkan beratnya kehidupan seorang pemimpin perlawanan yang dipisahkan dari tanah kelahirannya. Pengasingan digunakan pemerintah kolonial untuk membatasi hubungan Diponegoro dengan para pengikutnya di Jawa.

Meski berstatus tahanan, Pangeran Diponegoro tetap didampingi sebagian keluarga dan pengikut. Ia menghabiskan masa tuanya di Makassar hingga wafat pada 8 Januari 1855.

Makam Pangeran Diponegoro Berada di Makassar

Setelah meninggal, Pangeran Diponegoro dimakamkan di Makassar. Makamnya berada di kawasan Kampung Melayu, tidak terlalu jauh dari Fort Rotterdam.

Kehadiran ruang pengasingan dan makam membuat perjalanan sejarah Diponegoro di Makassar dapat dipelajari melalui dua lokasi berbeda. Fort Rotterdam memperlihatkan masa penahanannya, sedangkan kompleks makam menjadi tempat penghormatan terhadap perjuangannya.

“Menurut penulis, ruang pengasingan Diponegoro menjadikan Fort Rotterdam bukan hanya peninggalan arsitektur, tetapi juga tempat untuk memahami beratnya harga yang dibayar para pejuang kemerdekaan.”

Museum La Galigo Mengisi Bangunan Bersejarah

Saat ini, salah satu fungsi penting kompleks Fort Rotterdam adalah menjadi lokasi Museum La Galigo. Museum tersebut menyimpan koleksi yang berhubungan dengan sejarah, arkeologi, perdagangan, pelayaran, kehidupan masyarakat, serta kebudayaan Sulawesi Selatan.

Nama La Galigo diambil dari karya sastra Bugis yang dikenal luas. Museum tersebut tercatat sebagai museum umum Tipe A dan terdaftar dalam jaringan Museum Indonesia.

Berawal dari Celebes Museum

Kegiatan permuseuman di kompleks Fort Rotterdam telah berlangsung sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1938 didirikan Celebes Museum yang menempati salah satu bangunan di dalam benteng.

Kegiatan museum sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, para budayawan Sulawesi Selatan merintis kembali pendirian museum. Museum La Galigo kemudian dinyatakan berdiri secara resmi pada 1 Mei 1970 melalui keputusan pemerintah daerah.

Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan cara masyarakat menggunakan bangunan kolonial. Ruang yang dahulu mendukung pemerintahan dan kepentingan militer kini dipakai untuk menyimpan pengetahuan mengenai masyarakat Sulawesi.

Koleksi dari Berbagai Wilayah Sulawesi Selatan

Museum La Galigo memiliki koleksi arkeologi, keramik, mata uang, naskah, perlengkapan tradisional, hasil kerajinan, serta benda yang berhubungan dengan aktivitas pelayaran.

Pengunjung dapat menemukan penjelasan mengenai rumah adat, pakaian, alat pertanian, senjata tradisional, perahu, dan upacara masyarakat. Koleksi tersebut berasal dari berbagai kelompok yang hidup di Sulawesi Selatan, termasuk Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.

Model perahu membantu menjelaskan kemampuan masyarakat Sulawesi dalam mengarungi laut. Peralatan tenun memperlihatkan ketelitian dalam menghasilkan kain, sedangkan koleksi keramik memberikan petunjuk mengenai hubungan perdagangan dengan wilayah lain.

Fort Rotterdam Menjadi Ruang Budaya di Tengah Kota

Perubahan fungsi membuat Fort Rotterdam tetap hidup di tengah perkembangan Makassar. Kompleks tersebut digunakan untuk kegiatan pendidikan, pameran, pertunjukan seni, diskusi budaya, dan kunjungan pelajar.

Sejumlah bangunan di dalam benteng telah dialihkan untuk perkantoran dan pengelolaan kegiatan kebudayaan. Pemerintah daerah menempatkan kawasan ini sebagai sarana wisata budaya serta pendidikan.

Halaman Benteng untuk Kegiatan Publik

Halaman luas di tengah kompleks menjadi tempat yang sesuai bagi pertunjukan tari, musik, teater, atau festival. Latar bangunan tua memberikan suasana berbeda dibandingkan gedung pertunjukan tertutup.

Kegiatan publik membantu masyarakat mengenal benteng bukan hanya melalui buku sejarah. Pengunjung dapat masuk ke lingkungan bangunan, mengamati strukturnya, serta mengikuti acara yang memperkenalkan seni Sulawesi Selatan.

Pemanfaatan tersebut tetap membutuhkan aturan ketat. Jumlah pengunjung, penempatan panggung, pencahayaan, dan perlengkapan acara harus memperhatikan keamanan bangunan.

Tempat Belajar bagi Pelajar

Fort Rotterdam sering menjadi tujuan kunjungan sekolah. Pelajar dapat melihat secara langsung bentuk benteng, bastion, ruang tahanan, serta koleksi Museum La Galigo.

Pembelajaran di lokasi memberi gambaran yang lebih jelas daripada sekadar melihat foto. Ukuran dinding, ketebalan pintu, susunan halaman, dan posisi benteng terhadap laut membantu menjelaskan alasan pembangunannya.

Guru dapat menghubungkan kunjungan dengan pelajaran sejarah kerajaan, perdagangan rempah, kolonialisme, Perang Makassar, dan perjuangan Pangeran Diponegoro.

Menjelajahi Fort Rotterdam dengan Tetap Menjaga Bangunan

Fort Rotterdam terdaftar sebagai cagar budaya sehingga setiap bagian perlu diperlakukan dengan hati hati. Dinding, tangga, pintu, jendela, lantai, serta berbagai unsur lama tidak boleh dicoret atau dirusak.

Pengunjung sebaiknya mengikuti jalur yang tersedia. Beberapa ruangan dapat memiliki pembatas karena digunakan untuk kegiatan pengelolaan, penyimpanan koleksi, atau pekerjaan perawatan.

Waktu Kunjungan dan Akses

Informasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyebutkan kompleks Fort Rotterdam terbuka setiap hari pukul 09.00 hingga 18.00 WITA tanpa biaya masuk untuk memasuki kawasan benteng. Ketentuan Museum La Galigo dapat berbeda dan perlu diperiksa kembali sebelum berkunjung.

Lokasinya cukup mudah dijangkau dari pusat Kota Makassar. Pengunjung yang berada di Pantai Losari dapat melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju Jalan Ujung Pandang.

Area parkir, toilet, taman, tempat berfoto, museum, dan fasilitas pendukung tersedia di sekitar kompleks. Kehadiran fasilitas tersebut membantu Fort Rotterdam menerima wisatawan, rombongan sekolah, peneliti, serta masyarakat yang datang menghadiri kegiatan budaya.

Sudut yang Menarik untuk Diamati

Gerbang utama menjadi bagian pertama yang memperlihatkan ketebalan dinding benteng. Setelah melewatinya, pengunjung akan melihat halaman terbuka dengan bangunan yang tersusun di berbagai sisi.

Bangunan beratap merah dan jendela kayu memperlihatkan corak kolonial yang masih terjaga. Jalur menuju bastion menawarkan pandangan lebih tinggi ke arah kompleks dan Kota Makassar.

Museum La Galigo memerlukan waktu kunjungan lebih panjang karena koleksinya terbagi ke beberapa bagian. Ruang pengasingan Pangeran Diponegoro juga patut diamati dengan tenang agar kisah yang melekat pada tempat tersebut dapat dipahami secara utuh.

Pelestarian Menjaga Fort Rotterdam Tetap Berdiri

Usia bangunan yang telah mencapai ratusan tahun membuat Fort Rotterdam memerlukan pengawasan berkelanjutan. Hujan, panas, kelembapan, pertumbuhan lumut, serta aktivitas manusia dapat memengaruhi kondisi dinding dan bangunan.

Perawatan tidak dapat dilakukan dengan cara yang sama seperti memperbaiki gedung baru. Material, bentuk, ukuran, serta teknik pengerjaan harus menyesuaikan unsur asli agar karakter bangunan tidak hilang.

Tantangan di Tengah Perkembangan Kota

Fort Rotterdam kini dikelilingi jalan, pertokoan, hotel, kantor, dan berbagai kegiatan perkotaan. Perubahan lingkungan sekitar perlu diperhatikan agar keberadaan benteng tidak tenggelam di antara bangunan baru.

Getaran kendaraan, saluran air, kebersihan, kepadatan pengunjung, dan penggunaan ruang untuk acara harus dikelola secara terukur. Pengawasan diperlukan agar kepentingan wisata tidak mengurangi perlindungan terhadap bangunan.

Fort Rotterdam tetap menjadi salah satu penanda paling kuat bagi Kota Makassar. Di dalam dindingnya tersimpan perjalanan Kerajaan Gowa, persaingan perdagangan laut, kekuasaan kolonial, pengasingan seorang pejuang, serta usaha masyarakat Sulawesi Selatan menjaga warisan sejarahnya.